Akankah Hilang Semuanya,
Saat yang lain datang dan ia akan kembali
Semua Semua Semua,
Bertebaran diatas dahan dahan
Belum genap tetes tetes itu kering
Belum diseka ia sama sekali
Berhujar hidup yang berkedok mimpi
Disini hanya inginkan Sunyi
Delapan atau bahkan Empat Tidak Bisa Dihitung
Ranting Kering Menanti Hujan
Kering Lidah untuk berucap
Menanti disini penuh Harap
Deny Blog tentang beberapa pikiran yang ingin saya utarakan kalau ada yang ingin disampaikan bisa ke alamat email saya deny.widiyan@gmail.com
Cerita - Pertemuan
Hujan menggelegar diluar, hampir bisa ikut ke ruangan ini. sebuah rumah kayu dengan atap yang agak bocor diatasnya. jendela berdecit meski agak pelan. tapi jujur itu,sangat mengangguku.
Kini aku hanya menunggu pertemuan yang telah kunantikan selama 10 tahun. Antara aku dengan dirinya.
" Jeder " Suara Halilintar terdengar keras. Kali ini sungguh sangat keras, lain dengan biasanya.
dari arah pintu terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Tok Tok Tok" Suara ketukan itu terdengar tiga kali,
Siapakah Ia? Batinku bertanya.
Aku coba beranikan diri untukmembuka pintu.
" Oh benar!""dia yang kutunggu!" meski ia menampakkan wujud yang berbeda daripada 10 tahun lalu, namun aku tetap mengenalinya.
" Selamat malam Bu" Sapanya sopan.
"Oh! Aku sudah menunggu mu,setelah sekian lama!" Jawabku girang.
"Akhirnya kau menepati janjimu " kataku menambahkan.
" Maaf ?" Tanyanya,
"Apakah kau sudah lupa denganku ? " tanyaku agak terkejut.
" Oh tapi baiklah tidak apa apa,silahkan duduk terlebih dahulu"
lalu dia duduk berhadapan denganku. sepertinya ia mencoba tersenyum. tapi disorot matanya terlihat dia tampak agak bingung.
" Hei ingatkah kau denganku ?"
" Aku adalah remaja yang kau selamatkan dulu, ketika aku hampir saja kehilangan nyawaku"
" Tentu, Tentu saja aku ingat" jawabnya
"Syukurlah ", " Hampir saja aku terbunuh oleh pembunuh berantai itu, dan aku selamatkan aku"
" Kau Bilang padanya, sayang sekali kawan, ini waktumu, dan bukan waktunya"
" Lalu kau membawanya pergi wahai malaikat kematian"
" Sebelum pergi kau menoleh ke belakang dan bilang akan kesini sepuluh tahun lagi,"
" Dan kau meminta aku datang "
"Tentu aku datang, sekarang ambillah nyawaku ini"
"Aku Siap"tuturku
sosok itu kembali tersenyum,
" terima kasih telah memegang janjimu, memang jadwalku kesini adalah mengambil nyawa "
" masih ada sedikit waktu, mau Berbincang ?"
" Oh Tentu, tentu saja, tapi jangan keras keras, anak dan suamiku sedang tertidur di ruangan samping Sahutku
" Namun ada suatu kesalahan pikiran nyonya" jawab sang maut,
" Aku Kesini bukan untuk membawamu" Jawab sang maut,
" Bukan Bukan Saatnya dirimu untuk Aku Bawa Pergi" tambahnya
" Lalu ?" Tanyaku bingung
" Tunjukan Aku Kamar Anak dan suamimu" sambil ucapnya sambil tersenyum
"
Kini aku hanya menunggu pertemuan yang telah kunantikan selama 10 tahun. Antara aku dengan dirinya.
" Jeder " Suara Halilintar terdengar keras. Kali ini sungguh sangat keras, lain dengan biasanya.
dari arah pintu terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Tok Tok Tok" Suara ketukan itu terdengar tiga kali,
Siapakah Ia? Batinku bertanya.
Aku coba beranikan diri untukmembuka pintu.
" Oh benar!""dia yang kutunggu!" meski ia menampakkan wujud yang berbeda daripada 10 tahun lalu, namun aku tetap mengenalinya.
" Selamat malam Bu" Sapanya sopan.
"Oh! Aku sudah menunggu mu,setelah sekian lama!" Jawabku girang.
"Akhirnya kau menepati janjimu " kataku menambahkan.
" Maaf ?" Tanyanya,
"Apakah kau sudah lupa denganku ? " tanyaku agak terkejut.
" Oh tapi baiklah tidak apa apa,silahkan duduk terlebih dahulu"
lalu dia duduk berhadapan denganku. sepertinya ia mencoba tersenyum. tapi disorot matanya terlihat dia tampak agak bingung.
" Hei ingatkah kau denganku ?"
" Aku adalah remaja yang kau selamatkan dulu, ketika aku hampir saja kehilangan nyawaku"
" Tentu, Tentu saja aku ingat" jawabnya
"Syukurlah ", " Hampir saja aku terbunuh oleh pembunuh berantai itu, dan aku selamatkan aku"
" Kau Bilang padanya, sayang sekali kawan, ini waktumu, dan bukan waktunya"
" Lalu kau membawanya pergi wahai malaikat kematian"
" Sebelum pergi kau menoleh ke belakang dan bilang akan kesini sepuluh tahun lagi,"
" Dan kau meminta aku datang "
"Tentu aku datang, sekarang ambillah nyawaku ini"
"Aku Siap"tuturku
sosok itu kembali tersenyum,
" terima kasih telah memegang janjimu, memang jadwalku kesini adalah mengambil nyawa "
" masih ada sedikit waktu, mau Berbincang ?"
" Oh Tentu, tentu saja, tapi jangan keras keras, anak dan suamiku sedang tertidur di ruangan samping Sahutku
" Namun ada suatu kesalahan pikiran nyonya" jawab sang maut,
" Aku Kesini bukan untuk membawamu" Jawab sang maut,
" Bukan Bukan Saatnya dirimu untuk Aku Bawa Pergi" tambahnya
" Lalu ?" Tanyaku bingung
" Tunjukan Aku Kamar Anak dan suamimu" sambil ucapnya sambil tersenyum
"
Puisi - Kaki terantai
Lepaskan!
Lepaskan belenggu ini!
Dalam Gelap terikat Senja,
Berjingkat jingkat di anak tangga
Mohon lepaskan dalam kesakitan,
menabur senyap mengawal asmara
Di tembok putih ini,
terikat antara rantai dan perih
Lepaskan belenggu ini!
Dalam Gelap terikat Senja,
Berjingkat jingkat di anak tangga
Mohon lepaskan dalam kesakitan,
menabur senyap mengawal asmara
Di tembok putih ini,
terikat antara rantai dan perih
Langganan:
Komentar (Atom)