Aku Bersulang dalam angan
Di telungkup basah di tetesan
Merembes Luka, Angin Berlalu
sampai semua jadi Kaku
Dalam bayang dalam dekapan
Sayat menyayat rindu Aku
Hei Kau Disana Wahai Durjana,
Delapan Gelas Aku Berdahaga
Meski Mati kau kan kubawa
Deny Blog tentang beberapa pikiran yang ingin saya utarakan kalau ada yang ingin disampaikan bisa ke alamat email saya deny.widiyan@gmail.com
Puisi - Akankah Hilang ?
Akankah Hilang Semuanya,
Saat yang lain datang dan ia akan kembali
Semua Semua Semua,
Bertebaran diatas dahan dahan
Belum genap tetes tetes itu kering
Belum diseka ia sama sekali
Berhujar hidup yang berkedok mimpi
Disini hanya inginkan Sunyi
Delapan atau bahkan Empat Tidak Bisa Dihitung
Ranting Kering Menanti Hujan
Kering Lidah untuk berucap
Menanti disini penuh Harap
Saat yang lain datang dan ia akan kembali
Semua Semua Semua,
Bertebaran diatas dahan dahan
Belum genap tetes tetes itu kering
Belum diseka ia sama sekali
Berhujar hidup yang berkedok mimpi
Disini hanya inginkan Sunyi
Delapan atau bahkan Empat Tidak Bisa Dihitung
Ranting Kering Menanti Hujan
Kering Lidah untuk berucap
Menanti disini penuh Harap
Cerita - Pertemuan
Hujan menggelegar diluar, hampir bisa ikut ke ruangan ini. sebuah rumah kayu dengan atap yang agak bocor diatasnya. jendela berdecit meski agak pelan. tapi jujur itu,sangat mengangguku.
Kini aku hanya menunggu pertemuan yang telah kunantikan selama 10 tahun. Antara aku dengan dirinya.
" Jeder " Suara Halilintar terdengar keras. Kali ini sungguh sangat keras, lain dengan biasanya.
dari arah pintu terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Tok Tok Tok" Suara ketukan itu terdengar tiga kali,
Siapakah Ia? Batinku bertanya.
Aku coba beranikan diri untukmembuka pintu.
" Oh benar!""dia yang kutunggu!" meski ia menampakkan wujud yang berbeda daripada 10 tahun lalu, namun aku tetap mengenalinya.
" Selamat malam Bu" Sapanya sopan.
"Oh! Aku sudah menunggu mu,setelah sekian lama!" Jawabku girang.
"Akhirnya kau menepati janjimu " kataku menambahkan.
" Maaf ?" Tanyanya,
"Apakah kau sudah lupa denganku ? " tanyaku agak terkejut.
" Oh tapi baiklah tidak apa apa,silahkan duduk terlebih dahulu"
lalu dia duduk berhadapan denganku. sepertinya ia mencoba tersenyum. tapi disorot matanya terlihat dia tampak agak bingung.
" Hei ingatkah kau denganku ?"
" Aku adalah remaja yang kau selamatkan dulu, ketika aku hampir saja kehilangan nyawaku"
" Tentu, Tentu saja aku ingat" jawabnya
"Syukurlah ", " Hampir saja aku terbunuh oleh pembunuh berantai itu, dan aku selamatkan aku"
" Kau Bilang padanya, sayang sekali kawan, ini waktumu, dan bukan waktunya"
" Lalu kau membawanya pergi wahai malaikat kematian"
" Sebelum pergi kau menoleh ke belakang dan bilang akan kesini sepuluh tahun lagi,"
" Dan kau meminta aku datang "
"Tentu aku datang, sekarang ambillah nyawaku ini"
"Aku Siap"tuturku
sosok itu kembali tersenyum,
" terima kasih telah memegang janjimu, memang jadwalku kesini adalah mengambil nyawa "
" masih ada sedikit waktu, mau Berbincang ?"
" Oh Tentu, tentu saja, tapi jangan keras keras, anak dan suamiku sedang tertidur di ruangan samping Sahutku
" Namun ada suatu kesalahan pikiran nyonya" jawab sang maut,
" Aku Kesini bukan untuk membawamu" Jawab sang maut,
" Bukan Bukan Saatnya dirimu untuk Aku Bawa Pergi" tambahnya
" Lalu ?" Tanyaku bingung
" Tunjukan Aku Kamar Anak dan suamimu" sambil ucapnya sambil tersenyum
"
Kini aku hanya menunggu pertemuan yang telah kunantikan selama 10 tahun. Antara aku dengan dirinya.
" Jeder " Suara Halilintar terdengar keras. Kali ini sungguh sangat keras, lain dengan biasanya.
dari arah pintu terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Tok Tok Tok" Suara ketukan itu terdengar tiga kali,
Siapakah Ia? Batinku bertanya.
Aku coba beranikan diri untukmembuka pintu.
" Oh benar!""dia yang kutunggu!" meski ia menampakkan wujud yang berbeda daripada 10 tahun lalu, namun aku tetap mengenalinya.
" Selamat malam Bu" Sapanya sopan.
"Oh! Aku sudah menunggu mu,setelah sekian lama!" Jawabku girang.
"Akhirnya kau menepati janjimu " kataku menambahkan.
" Maaf ?" Tanyanya,
"Apakah kau sudah lupa denganku ? " tanyaku agak terkejut.
" Oh tapi baiklah tidak apa apa,silahkan duduk terlebih dahulu"
lalu dia duduk berhadapan denganku. sepertinya ia mencoba tersenyum. tapi disorot matanya terlihat dia tampak agak bingung.
" Hei ingatkah kau denganku ?"
" Aku adalah remaja yang kau selamatkan dulu, ketika aku hampir saja kehilangan nyawaku"
" Tentu, Tentu saja aku ingat" jawabnya
"Syukurlah ", " Hampir saja aku terbunuh oleh pembunuh berantai itu, dan aku selamatkan aku"
" Kau Bilang padanya, sayang sekali kawan, ini waktumu, dan bukan waktunya"
" Lalu kau membawanya pergi wahai malaikat kematian"
" Sebelum pergi kau menoleh ke belakang dan bilang akan kesini sepuluh tahun lagi,"
" Dan kau meminta aku datang "
"Tentu aku datang, sekarang ambillah nyawaku ini"
"Aku Siap"tuturku
sosok itu kembali tersenyum,
" terima kasih telah memegang janjimu, memang jadwalku kesini adalah mengambil nyawa "
" masih ada sedikit waktu, mau Berbincang ?"
" Oh Tentu, tentu saja, tapi jangan keras keras, anak dan suamiku sedang tertidur di ruangan samping Sahutku
" Namun ada suatu kesalahan pikiran nyonya" jawab sang maut,
" Aku Kesini bukan untuk membawamu" Jawab sang maut,
" Bukan Bukan Saatnya dirimu untuk Aku Bawa Pergi" tambahnya
" Lalu ?" Tanyaku bingung
" Tunjukan Aku Kamar Anak dan suamimu" sambil ucapnya sambil tersenyum
"
Puisi - Kaki terantai
Lepaskan!
Lepaskan belenggu ini!
Dalam Gelap terikat Senja,
Berjingkat jingkat di anak tangga
Mohon lepaskan dalam kesakitan,
menabur senyap mengawal asmara
Di tembok putih ini,
terikat antara rantai dan perih
Lepaskan belenggu ini!
Dalam Gelap terikat Senja,
Berjingkat jingkat di anak tangga
Mohon lepaskan dalam kesakitan,
menabur senyap mengawal asmara
Di tembok putih ini,
terikat antara rantai dan perih
Puisi - Berkarat
Berkarat dan lemah,
tertembus sepi diatas mimpi
Terlihat sedih
Sakit dan ingin sembunyi
Berkata dia
ini tak ada
Terbuang percuma,
Akhir Akhir janji suci
Tak Ada
Tak Ada
Tak Ada
Apa mau dikata
Jutaan Mawar telah menjadi merah
Hancur hingga jadi debu
Berkarat dan Hilang
27 dan menghitung
Aku tahu aku tahu!
Melewati ini,
Dan Kembali
tertembus sepi diatas mimpi
Terlihat sedih
Sakit dan ingin sembunyi
Berkata dia
ini tak ada
Terbuang percuma,
Akhir Akhir janji suci
Tak Ada
Tak Ada
Tak Ada
Apa mau dikata
Jutaan Mawar telah menjadi merah
Hancur hingga jadi debu
Berkarat dan Hilang
27 dan menghitung
Aku tahu aku tahu!
Melewati ini,
Dan Kembali
Puisi - Tidur
Aku ingin tertidur tanpa bangun lagi,
Diselimuti jingganya mentari,
kedalam tempat yang tak kan kembali,
Aku ingin terlelap,
terpejam tanpa riak riak derita dunia
Cukuplah Engkau Tuhan,
Tuhan, aku menyerah
Aku Kalah
Diselimuti jingganya mentari,
kedalam tempat yang tak kan kembali,
Aku ingin terlelap,
terpejam tanpa riak riak derita dunia
Cukuplah Engkau Tuhan,
Tuhan, aku menyerah
Aku Kalah
Puisi - Daun Di Ujung Jalan
Aku memang jalang,
bajingan ternoda emas berlian
Aku koyak nyawa sampai habis,
Hingga Darah tak tersisa lagi,
Bait bait itu aku bakar,
seperti aku membakar daun di ujung jalan
Ia berteriak meminta tolong,
Dan disini aku hanya tertawa
Melihatnya menangis,
Tersedu memekik,
Jam menunjukkan angka sebelas,
dan tahukah dirimu aku disini tertawa menderita
bajingan ternoda emas berlian
Aku koyak nyawa sampai habis,
Hingga Darah tak tersisa lagi,
Bait bait itu aku bakar,
seperti aku membakar daun di ujung jalan
Ia berteriak meminta tolong,
Dan disini aku hanya tertawa
Melihatnya menangis,
Tersedu memekik,
Jam menunjukkan angka sebelas,
dan tahukah dirimu aku disini tertawa menderita
Puisi - Belati Berkarat
Remuk Nian terhempas,
tertusuk perih mengalun lembut
Rapuh terbalut luka
terhujam rapuh si belati berkarat
noda noda tanpa tawa
menebus kedalam hati yang menjerit
Jerit tanpa suara
tanpa bertanya ia disini,
Tak Sabar untuk menanti mati
tertusuk perih mengalun lembut
Rapuh terbalut luka
terhujam rapuh si belati berkarat
noda noda tanpa tawa
menebus kedalam hati yang menjerit
Jerit tanpa suara
tanpa bertanya ia disini,
Tak Sabar untuk menanti mati
Meja Terserak - Puisi
Diatas meja ini aku tuliskan,
beberapa butir pengharapan,
Dahan dahan berserak basah di meja ini
hanya dengan harap ia menanti
Terseok seok Aku menanti Angin yang dingin,
Entah sam[ai kapan bisa bertahan
Oh Tuhan Semesata ini,
Mohon Hamba dikasihi,
Tak kuat menahan hati menahan diri
Oh Dosa,tersenyum Sini Padaku,
Luluh lantak saat bertemu
Anak belati beranjak pilu
Mata ini semakin sayu,
Biru kini warnamu,
Dalam diam aku bercerita
Dalam Meja terserak yang penuh makna
beberapa butir pengharapan,
Dahan dahan berserak basah di meja ini
hanya dengan harap ia menanti
Terseok seok Aku menanti Angin yang dingin,
Entah sam[ai kapan bisa bertahan
Oh Tuhan Semesata ini,
Mohon Hamba dikasihi,
Tak kuat menahan hati menahan diri
Oh Dosa,tersenyum Sini Padaku,
Luluh lantak saat bertemu
Anak belati beranjak pilu
Mata ini semakin sayu,
Biru kini warnamu,
Dalam diam aku bercerita
Dalam Meja terserak yang penuh makna
Filosofi – Dasar Bersilsafat
Manusia Tidak akan
Puas, Begitu menurut pandangan umum. Hanya kematian yang dapat mennghentikanya.
Pertanyaan mengapa Manusia Itu ada
adalah pertanyaan yang ditanyakan dari dahulu. Dari kalangan Peneliti
mengatakan kalau Eksistensi manusia Ada karena Ia Ingin Meneruskan
Keberlangsungan Spesiesnya untuk bisa
bertahan, dari kalangan Agama. Ekestensi Manusia Berarti Beribadah kepada yan
maha Esa.
Atas Pandangan Itu
Manusia Terikat pada Fungsinya untuk Hidup. Tapi garis besar itu terlalu umum.
Lalu Bagaimana jika
dari kesimpulan tersebut, jika individu dari sisi manusianya dia tidak ingin
dan tidak mau untuk meneruskan spesiesnya apakah dia gagal secara hidpnya ?
Apakah Jika Manusia
Tidak Beribadah apakah ia Dianggap gagal dalam Menjalani perintah Yang Maha
Esa.
Ataukah Salah Untuk
hanya hidup sekadar Hidup sebelum
akhirnya mati ?
Jika Salah Lalu
Manakah Yang Benar ?
Ataukah Manusia
Harus Bisa untuk memaknai Hidupnya?
Bagaimanakah caranya
?
Semakin
Mempertanyakan dan Semakin dalam pertanyaan tersebut akan membuat pikiran
Bertanya dan mempertanyakan. Namun dalam pertanyaan tersebut manusia tidak akan
Puas meskipun berapapun jawaban didapat dari Orang Lain,
Karena Itu Berfisafat tidak hanya bisa dengan proses
berfikir dan bertanya. Tapi juga dijalani.
Puisi - Far From The Town
I Was Far Far Away From My Town,
I Need Stories,
Need before I break,
I Need Humanity,
For Not Desperate,
1 July Long Long Ago,
I Feel to Live,
I Pray in the Wedding of Me
and Cross all the Bottom,
The Bottom Line of broken dream,
All Humanity Dream,
And Now I Am Down,
Down Down So Deep,
In the unknown name
I Need Stories,
Need before I break,
I Need Humanity,
For Not Desperate,
1 July Long Long Ago,
I Feel to Live,
I Pray in the Wedding of Me
and Cross all the Bottom,
The Bottom Line of broken dream,
All Humanity Dream,
And Now I Am Down,
Down Down So Deep,
In the unknown name
Cerita - Keatas Puncak
Tembakan demi tembakan terdengar, Tak Terasa Sudah beberapa Jam peperangan telah berlangsung.
Satu Persatu jatuh, dan Naga Naga Tinggi Membumbung masih saja banyak. Mungkin Pertarungan besar ini akan segera berakhir. dengan kekalahan umat manusia tentunya. Sepuluh Naga Api Mungkin Telah kami bunuh. tapi ratusan sisanya masih saja Berkelebat,
Belati, senapan , Bom , rudal dan nyawa sudah tak terhitung jumlahnya terkalahkan. mayat mayat bergelimpangan bagikan ongokan daun daun jatuh. dan kusadari ternyata manusia itu rapuh. beberapa dari kami menangis berharap ini semua hanya mimpi dan hanya senandung mimpi buruk. tapi apakah ini bagian terburuknya?
Bukan, bukan yang terburuk. yang terburuk akan datang setelah ini. batinku. dan ternyata tebakanku tidka meleset. Boom, meledak dengan jutaan partikel partikel. Inikah yang dinamakan nuklir ?
Puluhan ribu kami disini yang berjuang ternyata hanya umpan para naga. untuk diledakkan bersama mereka,
Mungkin ini langkah terakhir pemerintah dunia, yang frustasi atas kekacauan yang melanda dunia ini.
dan aku tak bisa menyalahkan mereka.
_______________________________
3 Bulan yang lalu,
Selokan selokan disini terlihat sangat penuh, ada seorang wanita hamil berjalan tergopoh gopoh,
dengan darah menetes dari selangkanganya. Dia berteriak kesakitan dan berjalan menju jalan raya untuk meminta pertolongan.
"Tolong, Tolong Aku "
Rintihnya,
"Selamatkan Anakku "
"Tolong tolonglah" Mohonya kepada siapa saja di jalan.
Tetapi setiap orang seakan tidak peduli, mereka jalan cepat untuk mengurusi urusanya masing masing. tanda kesakitan dibadan wanita itu padahal terlihat sangat jelas. dia tak berharap dirinya selamat, karena itu sepertinya dia rasa tidak layak atas dosa dosanya.
Ia Hanya ingin anak di kandunganya terselamatkan.
dan meneruskan kehidupan di dunia nyata. Perempuan itu lelah karena tidak ada yang peduli padanya.
Ia Lelah selelah lelahnya.
Ia Tergeletak di jalan,
rentan dan tak berdaya,
Ia Kecewa, kecewa pada kehidupan. atas perlakuan orang orang, tidak hanya kali ini.
tapi sebelum sebelumnya. Ia mau rasanya mati saja, tapi dia tidak mau janinya mati dengan nista.
di akhir,penghujung dia akhirnya berdoa.
Doa Dengan semua rasa yang dimilikinya. Apapun yang terjadi dia ingin anaknya terlahir kedunia.
Entah apa pun itu yang mesti ia korbankan.
"Tuhan" "Ambil Tuhan"
"Nyawa Tak Berharga ini " Pintanya dalam hati
"tapi jangan nyawa Anakku"
" Aku ingin dia Ada"
" Entah bagaimanapun rupanya"
" Tolong Aku Tuhan"
" Aku Percaya padaMu "
Angin DIngin dan salju lama kelamaan berhembus.
dan nyawa wanita itu tergeletak tak berdaya.
_____________________________________
"Boooooooooooooooooooooooooom" Suara Keras seperti suara bom meledak.
serasa ini adalah pertanda kiamat. orang orang ketakutan.
di kota itu semua orang berteriak teriak.
lalu mayat perempuan itu tiba tiba bercahaya.
Tubuhnya meledak.
dari dalam perutnya muncul sebuah bola hitam. hitam yang pekat.
lalu benda itu menyentuh tanah,
Tiba Tiba tanah Merekah dan seleruh kota jatuh berdebum ke dalam jurang yang teramat dalam.
Kota itu seluruhnya jatuh kedalam tanpa tersisa.
kejadinya hanya sekian menit,
kengerian tak sempat untuk diteriakkan dalam jangka yang lama.
dan lubang yang sebesar diameter kota itu tenang selama sebulan,
entah apa yang terjadi di dalamnya.
karena begitu dalamnya.
Beberapa holikopter yang turun kedalamnya tak pernah kembali,
_________________________________
Dan hari itu Datang,
Ratusan naga keluar dari lubang itu,
amat sangat ganas. mereka menyemburkan api dari mulutnya,
membakar kota yang ada. tapi anehnya mereka hanya menyerang manusia. tak pernah sekalipun mereka membakar hutan. hanya desa dan kota kota tempat tinggal manusia,
berhari hari kejadian ini terjadi dan jutaan manusia telah mati. entah terbakar ataupun tercabik cabik oleh para naga itu.
Berapa banyak kota yang jatuh ketangan naga naga itu. Lubang tempat keluar para naga itupun kami serbu untuk kami hancurkan. tapi tidak ada hasilnya. Nuklir dan misil yang ditembakkan kesana seakan setika mati ketika memasuki lubang itu karena tidak pernah ada suara ledakan darinya. keberadaan manusia terancam setelah berpuluh puluh ribu tahun menjadi mahluk dominan diatas bumi,
mungkin beberapa naga yang muncul itu dapat kami bunuh, tapi itu hanya keberuntungan karena mereka sangat kuat.
__________________________________________
Sebulan Sebelumnya
Pusat pemerintahan dunia.
"Kita harus terjunkan semua tentara umat manusia untuk hadapi pertempuran ini,
Mereka tidak ada habisnya,"ucap salah seorang kepala pemerintahan dunia.
" Ya Mereka hama bagi kemanusiaan" Teriak yang Lain.
" Berapa Jumlah Mereka Sekarang ? "tanya Sang kepala pemerintahan.
394.
karena dalam pertarungan selama sebulan ini, kita hanya bisa membunuh 24.
Itupun setelah beberapa kapal perang rusak dan pesawat pesawat pengebom telah ratusan yang dikerahkan.
mereka membuat kerusakan di banyak kota kota besar.
dan jumlah kematian terus saja bertambah,
Amunisi dan bahan bakar tidak bisa didistribusikan secara efektif untuk melawan mereka.
Bersambung.........
Satu Persatu jatuh, dan Naga Naga Tinggi Membumbung masih saja banyak. Mungkin Pertarungan besar ini akan segera berakhir. dengan kekalahan umat manusia tentunya. Sepuluh Naga Api Mungkin Telah kami bunuh. tapi ratusan sisanya masih saja Berkelebat,
Belati, senapan , Bom , rudal dan nyawa sudah tak terhitung jumlahnya terkalahkan. mayat mayat bergelimpangan bagikan ongokan daun daun jatuh. dan kusadari ternyata manusia itu rapuh. beberapa dari kami menangis berharap ini semua hanya mimpi dan hanya senandung mimpi buruk. tapi apakah ini bagian terburuknya?
Bukan, bukan yang terburuk. yang terburuk akan datang setelah ini. batinku. dan ternyata tebakanku tidka meleset. Boom, meledak dengan jutaan partikel partikel. Inikah yang dinamakan nuklir ?
Puluhan ribu kami disini yang berjuang ternyata hanya umpan para naga. untuk diledakkan bersama mereka,
Mungkin ini langkah terakhir pemerintah dunia, yang frustasi atas kekacauan yang melanda dunia ini.
dan aku tak bisa menyalahkan mereka.
_______________________________
3 Bulan yang lalu,
Selokan selokan disini terlihat sangat penuh, ada seorang wanita hamil berjalan tergopoh gopoh,
dengan darah menetes dari selangkanganya. Dia berteriak kesakitan dan berjalan menju jalan raya untuk meminta pertolongan.
"Tolong, Tolong Aku "
Rintihnya,
"Selamatkan Anakku "
"Tolong tolonglah" Mohonya kepada siapa saja di jalan.
Tetapi setiap orang seakan tidak peduli, mereka jalan cepat untuk mengurusi urusanya masing masing. tanda kesakitan dibadan wanita itu padahal terlihat sangat jelas. dia tak berharap dirinya selamat, karena itu sepertinya dia rasa tidak layak atas dosa dosanya.
Ia Hanya ingin anak di kandunganya terselamatkan.
dan meneruskan kehidupan di dunia nyata. Perempuan itu lelah karena tidak ada yang peduli padanya.
Ia Lelah selelah lelahnya.
Ia Tergeletak di jalan,
rentan dan tak berdaya,
Ia Kecewa, kecewa pada kehidupan. atas perlakuan orang orang, tidak hanya kali ini.
tapi sebelum sebelumnya. Ia mau rasanya mati saja, tapi dia tidak mau janinya mati dengan nista.
di akhir,penghujung dia akhirnya berdoa.
Doa Dengan semua rasa yang dimilikinya. Apapun yang terjadi dia ingin anaknya terlahir kedunia.
Entah apa pun itu yang mesti ia korbankan.
"Tuhan" "Ambil Tuhan"
"Nyawa Tak Berharga ini " Pintanya dalam hati
"tapi jangan nyawa Anakku"
" Aku ingin dia Ada"
" Entah bagaimanapun rupanya"
" Tolong Aku Tuhan"
" Aku Percaya padaMu "
Angin DIngin dan salju lama kelamaan berhembus.
dan nyawa wanita itu tergeletak tak berdaya.
_____________________________________
"Boooooooooooooooooooooooooom" Suara Keras seperti suara bom meledak.
serasa ini adalah pertanda kiamat. orang orang ketakutan.
di kota itu semua orang berteriak teriak.
lalu mayat perempuan itu tiba tiba bercahaya.
Tubuhnya meledak.
dari dalam perutnya muncul sebuah bola hitam. hitam yang pekat.
lalu benda itu menyentuh tanah,
Tiba Tiba tanah Merekah dan seleruh kota jatuh berdebum ke dalam jurang yang teramat dalam.
Kota itu seluruhnya jatuh kedalam tanpa tersisa.
kejadinya hanya sekian menit,
kengerian tak sempat untuk diteriakkan dalam jangka yang lama.
dan lubang yang sebesar diameter kota itu tenang selama sebulan,
entah apa yang terjadi di dalamnya.
karena begitu dalamnya.
Beberapa holikopter yang turun kedalamnya tak pernah kembali,
_________________________________
Dan hari itu Datang,
Ratusan naga keluar dari lubang itu,
amat sangat ganas. mereka menyemburkan api dari mulutnya,
membakar kota yang ada. tapi anehnya mereka hanya menyerang manusia. tak pernah sekalipun mereka membakar hutan. hanya desa dan kota kota tempat tinggal manusia,
berhari hari kejadian ini terjadi dan jutaan manusia telah mati. entah terbakar ataupun tercabik cabik oleh para naga itu.
Berapa banyak kota yang jatuh ketangan naga naga itu. Lubang tempat keluar para naga itupun kami serbu untuk kami hancurkan. tapi tidak ada hasilnya. Nuklir dan misil yang ditembakkan kesana seakan setika mati ketika memasuki lubang itu karena tidak pernah ada suara ledakan darinya. keberadaan manusia terancam setelah berpuluh puluh ribu tahun menjadi mahluk dominan diatas bumi,
mungkin beberapa naga yang muncul itu dapat kami bunuh, tapi itu hanya keberuntungan karena mereka sangat kuat.
__________________________________________
Sebulan Sebelumnya
Pusat pemerintahan dunia.
"Kita harus terjunkan semua tentara umat manusia untuk hadapi pertempuran ini,
Mereka tidak ada habisnya,"ucap salah seorang kepala pemerintahan dunia.
" Ya Mereka hama bagi kemanusiaan" Teriak yang Lain.
" Berapa Jumlah Mereka Sekarang ? "tanya Sang kepala pemerintahan.
394.
karena dalam pertarungan selama sebulan ini, kita hanya bisa membunuh 24.
Itupun setelah beberapa kapal perang rusak dan pesawat pesawat pengebom telah ratusan yang dikerahkan.
mereka membuat kerusakan di banyak kota kota besar.
dan jumlah kematian terus saja bertambah,
Amunisi dan bahan bakar tidak bisa didistribusikan secara efektif untuk melawan mereka.
Bersambung.........
Puisi - Sajak Belati
Teriris Sudah hampir tak tersisa,
adakah Aku ?
Atau Kamu?
Tapi tak mungkin Dia
Kelok mentari masih timbul,
ombak masih saja mendebur
Meski Tetap akan kalah,
Mesti Nian Berjuang sampai waktuya
adakah Aku ?
Atau Kamu?
Tapi tak mungkin Dia
Kelok mentari masih timbul,
ombak masih saja mendebur
Meski Tetap akan kalah,
Mesti Nian Berjuang sampai waktuya
Puisi - Bidadari Malang
Jalan Jalan Bertingkat,
Sudah Jam kami ini berangkat
Angan angan telah terangkat
Sudah Akhirnya berpisah jua,
Bidadari malang menangis,
bertetes darah
bebibir Biru
Ia Terduduk Lesu,
bertekuk Badan
Tengok nian dari kejauhan
Sayu teriris
Elok Elok Sungguh elok
dan disini hanya bisa berpedih
Sudah Jam kami ini berangkat
Angan angan telah terangkat
Sudah Akhirnya berpisah jua,
Bidadari malang menangis,
bertetes darah
bebibir Biru
Ia Terduduk Lesu,
bertekuk Badan
Tengok nian dari kejauhan
Sayu teriris
Elok Elok Sungguh elok
dan disini hanya bisa berpedih
Cerita - Tentang Seseorang
"Jreng jreng,"
Suara Gitar Terdengar dari luar, suara pengamen sepertinya. menyanyikan lagu kotor yang menyejukan pikiran. beberapa tetes darahku keluar dari pergelangan. sedikit tergores di sekitar kulit.
ternyata hari masih panjang dan masih banyak dokumen yang harus aku tanda tangani.
Ternyata hari ini belum saatnya aku pergi, dan sekarang malah menjadi beban pikiran. Sial pikirku.
"jreng jreng " suara gitar itu terdengar lagi. cempreng memang tapi lumayan enak juga. Eh, hari ini aku belum mengecek pos. mungkin ada pos dari dia.
Seorang wanita yang aku pikirkan tiap hari, tanpa henti. ya tanpa henti kecuali sedang memikirkan tagihan bulanan dan cicilan. sudah lah itu tidak penting.
" Jreng jreng" Si kampret Pengamen itu mengenjreng gitarnya lagi.
Duh, kenapa pikiranku tambah kemana mana.. Aku Harap ini segera berakhir, berakhir disini. dan aku harap akhirnya seperti yang aku harapkan tapi sepertinya tidak mungkin..
Aku hanya Diam dan diam, tapi nyawa mengabarkanku. bahwa ia tetap masih ingin disini.
aku balut lukaku walau dengan kepayahan.
duh, hanya ada tisu, tak apalah.
lalu perlahan aku cari dengan sebelah tangan, mungkin ada perban untuk mengehentikan kepayahan.
Nyawaku seakan bicara, yailah ndro. masak gara gara seseorang doang lu habis. kasian gua nih, masih pengen disini.
"Ok" Bilangku,
Sepertinya semakin darahku menipis aku jadi agak gila.
Tapi tak apa yang penting di dalam kegilaanku ini membuat sisi lain diriku "Waras"
Duh,
"Periih Anjrit!" Badanku mulai berontak.
turun dan turun lagi mataku, secara perlahan. seperti suara sirene dari kejauhan.
lewatkah ? atau akan menolongku ?
sepertinya aku sudah tidak tau lagi.
tak terpikirkan malah,
kembali menghadap tembok dan aku sudah tidak terburu buru.
Akankah sudah saatnya pergi ?
Duh Aku mau meminta maaf dan tidak akan mengulanginya,
tapi berhakkah aku ? untuk mengulang semuanya ?
bahkan si Kasur kesayanganku seolah menolaku kali ini untuk dapt limpahan curhhatku,
Kawan kawanku, tentang dia aku ingin bercerita,
jangan kalian benci dia,
15, 16
Duh sakit,
maaf
maaf
Aku hanya ingin melewati ini,
sendiri
Suara Gitar Terdengar dari luar, suara pengamen sepertinya. menyanyikan lagu kotor yang menyejukan pikiran. beberapa tetes darahku keluar dari pergelangan. sedikit tergores di sekitar kulit.
ternyata hari masih panjang dan masih banyak dokumen yang harus aku tanda tangani.
Ternyata hari ini belum saatnya aku pergi, dan sekarang malah menjadi beban pikiran. Sial pikirku.
"jreng jreng " suara gitar itu terdengar lagi. cempreng memang tapi lumayan enak juga. Eh, hari ini aku belum mengecek pos. mungkin ada pos dari dia.
Seorang wanita yang aku pikirkan tiap hari, tanpa henti. ya tanpa henti kecuali sedang memikirkan tagihan bulanan dan cicilan. sudah lah itu tidak penting.
" Jreng jreng" Si kampret Pengamen itu mengenjreng gitarnya lagi.
Duh, kenapa pikiranku tambah kemana mana.. Aku Harap ini segera berakhir, berakhir disini. dan aku harap akhirnya seperti yang aku harapkan tapi sepertinya tidak mungkin..
Aku hanya Diam dan diam, tapi nyawa mengabarkanku. bahwa ia tetap masih ingin disini.
aku balut lukaku walau dengan kepayahan.
duh, hanya ada tisu, tak apalah.
lalu perlahan aku cari dengan sebelah tangan, mungkin ada perban untuk mengehentikan kepayahan.
Nyawaku seakan bicara, yailah ndro. masak gara gara seseorang doang lu habis. kasian gua nih, masih pengen disini.
"Ok" Bilangku,
Sepertinya semakin darahku menipis aku jadi agak gila.
Tapi tak apa yang penting di dalam kegilaanku ini membuat sisi lain diriku "Waras"
Duh,
"Periih Anjrit!" Badanku mulai berontak.
turun dan turun lagi mataku, secara perlahan. seperti suara sirene dari kejauhan.
lewatkah ? atau akan menolongku ?
sepertinya aku sudah tidak tau lagi.
tak terpikirkan malah,
kembali menghadap tembok dan aku sudah tidak terburu buru.
Akankah sudah saatnya pergi ?
Duh Aku mau meminta maaf dan tidak akan mengulanginya,
tapi berhakkah aku ? untuk mengulang semuanya ?
bahkan si Kasur kesayanganku seolah menolaku kali ini untuk dapt limpahan curhhatku,
Kawan kawanku, tentang dia aku ingin bercerita,
jangan kalian benci dia,
15, 16
Duh sakit,
maaf
maaf
Aku hanya ingin melewati ini,
sendiri
Cerita - Dandelion
Dandelion kecil itu tumbuh di padang rumput yang sangat luas, Ia tumbuh Dengan Hati yang lapang. di dekatnya ada pohon cemara yang berdiri sendirian diantara padang rumput yang luas ini
Dandelion kecil itu bernyanyi, baik Panas maupun Hujan.
Beraneka Ragam Rumput di dekat dandelion ikut bernyanyi ketika si dandelion bernyanyi. Kebanyakan yang dinyanyikan lagu Cinta. ya Lagi Cinta.
Entah Mendayu dayu atau merayu. Jiwa Jiwa mati ikut bersenandung dengan si dandelion kecil.
Mungkin hanya kayu lapuk yang ikut bernyanyi denganya.
Air menetes netes di dahan cemara meyegarkan si dandelion. Bukankah hidup ini Bermakna Dandelion ?
Ketika kamu dapat berbagi kisah kisah dan nyanyian.
Du Du Du.
Mentari Mengitari, seolah tersenyum pada sang dandelion. Dia Seperti Memohon mohon agar dandelion tidak pernah menjadi kelabu.
Batu ! Ada Batu! Teriak Cemara,
Menggelinding hampir menindih Dandelion yang entah datang darimana.
Akh!!
Dandelion Menjerit, Dia Terkaget. rasanya dekat dengan kematian itu sungguh menyakitkan.
Lalu Tiba tiba Angin Berhembus, di dekat si Dandelion. Seperti apa Saja dapat diterbangkanya.
Waaah, Akar dandelion sudah tidak kuat untuk tertahan di tanah. dia terbang.
Semuanya Rindu, Rindu Akan Kehadiran si dandelion
dia Telah lama Pergi dari padang rumput.
dan lama kelamaan padang rumput telah menjadi tempat yang kering dan buas.
Mereka Rindu momen momen ketika ada si dandelion kecil.
Setiap kebahagiaan di padang terbawa pergi ketika dandelion pergi.
dan Waktu tidak Akan Menjadi sama lagi.
Padang menjadi tempat singa berburu dan kijang untuk bertahan hidup dari terkamanya.
Cerita - Di Depan Pintu
Rika,
"Apa yang kau lakukan ?" teriak ibunya,
"Aku Sedang berdiri di depan pintu bu "
Jawab Rika dengan tatapan kosong,
"Apa maksudmu Berdiri Di Depan Pintu ?"
Tanyanya atas kelakuan si kecil rika yang aneh. Dari Anak Bu Sutikno yang berjumlah enam yang kesemuanya adalah wanita. memang Rika lah yang menurut orang orang paling aneh. dia sering berdiri sendirian menatap kejauhan dan seolah tidak ada orang disekitarnya.
pernah suatu waktu dia tidak pulang dan seharian dicari oleh warga, ternyata dia sedang tertidur diatas pohon mangga. Pernah ia termanggu di tengah kuburan yang menurut orang angker. sebagian orang tua di perumahan itu menganggap dirinya agak kurang waras.
"Rika!" Teriak Ibunya lalu kepada rika.
dia menyeret anaknya itu untuk masuk ke kamarnya.
Tanpa ada suara dan tanpa melawan rika menurut,
Keesokan harinya rika dibawa ibunya ke dukun yang katanya pintar mengobati. dia terkenal dimana mana. saat matahari jatuh ke arah tenggara, Ibunya telah bersiap siap membawa Rika ke dukun itu.. Namun Keanehan terjadi, ketika mobil mereka telah sampai ke Rumah si dukun.
Telah ada bendera kuning berkibar dari rumah si dukun. entah kenapa tiba tiba tadi malam dia meninggal di kamarnya. padahal sebelumnya baik baik saja.
hari berikutnya Rika dibawa ke Psikiater, Ibu Dilla namanya. Seorang Psikiater terkenal,
" Bu, Anak Saya kenapa ya ?" tanya Ibu Sutikno ke si psikiater.
" Dia Seperti orang linglung"
Bingung si Ibu.
" Disuruhnya keluar Si Ibu, dan ditanyakan beberapa hal ke Rika atas perbuatan aneh yang dilakukanya.
Tapi Ibu Dilla juga bingung, menghadapi keanehan Rika.
Pertanyaan demi pertanyaan dia tanyakan dengan sangat jelas ke rika,
dengan berbagai macam pertanyaan.
Tapi jawaban yang keluar dari mulut Rika, kadang seperti orang tua yang menasehati atau kadang seperti anak kecil.
Mungkinkah Pikiran anak ini labil.
" Rika" Panggil Ibu Dila , Sebelum Dia mengakhiri percakapan dengan Rika.
" Tolong Jujur, saya Tahu Kamu Tidak sakit Jiwa atau Depresi "
" Tapi Kenapa Tindakanmu seperti orang yang linglung seperti itu"
Tanya Ibu Dilla,
" Tidak Bu, Saya Memang tidak"
Jawa Rika Pelan,
"Terus kenapa kamu seperti itu" Tanya Ibu Dilla,
" Harus ?"
Tanya Rika
" Iya, jika kamu tidak mau orang orang melihat kamu seperti orang yang sekarang" Jawab Ibu Dilla.
"Ibu serius ingin Tahu ?" tanya Rika
" Kenapa Memang rika ? Saya disini untuk membantu kamu.
Rika Berbalik menutup pintu dan korden.
kalau Begitu tolong Ibu matikan lampu barang sejenak.
Ibu Dilla Menurutinya.
Ruangan agak remang. lalu Rika Menunjuk Pintu,
dan Seketika Ibu Dilla Paham Maksud Rika
"Apa yang kau lakukan ?" teriak ibunya,
"Aku Sedang berdiri di depan pintu bu "
Jawab Rika dengan tatapan kosong,
"Apa maksudmu Berdiri Di Depan Pintu ?"
Tanyanya atas kelakuan si kecil rika yang aneh. Dari Anak Bu Sutikno yang berjumlah enam yang kesemuanya adalah wanita. memang Rika lah yang menurut orang orang paling aneh. dia sering berdiri sendirian menatap kejauhan dan seolah tidak ada orang disekitarnya.
pernah suatu waktu dia tidak pulang dan seharian dicari oleh warga, ternyata dia sedang tertidur diatas pohon mangga. Pernah ia termanggu di tengah kuburan yang menurut orang angker. sebagian orang tua di perumahan itu menganggap dirinya agak kurang waras.
"Rika!" Teriak Ibunya lalu kepada rika.
dia menyeret anaknya itu untuk masuk ke kamarnya.
Tanpa ada suara dan tanpa melawan rika menurut,
Keesokan harinya rika dibawa ibunya ke dukun yang katanya pintar mengobati. dia terkenal dimana mana. saat matahari jatuh ke arah tenggara, Ibunya telah bersiap siap membawa Rika ke dukun itu.. Namun Keanehan terjadi, ketika mobil mereka telah sampai ke Rumah si dukun.
Telah ada bendera kuning berkibar dari rumah si dukun. entah kenapa tiba tiba tadi malam dia meninggal di kamarnya. padahal sebelumnya baik baik saja.
hari berikutnya Rika dibawa ke Psikiater, Ibu Dilla namanya. Seorang Psikiater terkenal,
" Bu, Anak Saya kenapa ya ?" tanya Ibu Sutikno ke si psikiater.
" Dia Seperti orang linglung"
Bingung si Ibu.
" Disuruhnya keluar Si Ibu, dan ditanyakan beberapa hal ke Rika atas perbuatan aneh yang dilakukanya.
Tapi Ibu Dilla juga bingung, menghadapi keanehan Rika.
Pertanyaan demi pertanyaan dia tanyakan dengan sangat jelas ke rika,
dengan berbagai macam pertanyaan.
Tapi jawaban yang keluar dari mulut Rika, kadang seperti orang tua yang menasehati atau kadang seperti anak kecil.
Mungkinkah Pikiran anak ini labil.
" Rika" Panggil Ibu Dila , Sebelum Dia mengakhiri percakapan dengan Rika.
" Tolong Jujur, saya Tahu Kamu Tidak sakit Jiwa atau Depresi "
" Tapi Kenapa Tindakanmu seperti orang yang linglung seperti itu"
Tanya Ibu Dilla,
" Tidak Bu, Saya Memang tidak"
Jawa Rika Pelan,
"Terus kenapa kamu seperti itu" Tanya Ibu Dilla,
" Harus ?"
Tanya Rika
" Iya, jika kamu tidak mau orang orang melihat kamu seperti orang yang sekarang" Jawab Ibu Dilla.
"Ibu serius ingin Tahu ?" tanya Rika
" Kenapa Memang rika ? Saya disini untuk membantu kamu.
Rika Berbalik menutup pintu dan korden.
kalau Begitu tolong Ibu matikan lampu barang sejenak.
Ibu Dilla Menurutinya.
Ruangan agak remang. lalu Rika Menunjuk Pintu,
dan Seketika Ibu Dilla Paham Maksud Rika
Cerita - Penghakiman Yudistira
Barata Yudha Telah Selesai, dengan Terbunuhnya Jutaan manusia. Tangis dimana - dimana, entah berapa yang harus kehilangan keluarga. Padang Kurusetra yang hijau telah berubah semerah darah. Bangkai manusia dimana dimana di tanah yang disebut sebagai tanah suci.
Sebuah perang yang telah menjadi legenda
Putra Pertama pandawa, Yudistira diangkat menjadi raja Agung.
Sebagai Raja Astina yang baru, menggantikan Prabu Duryudana yang gugur di tangan Bima.
Ratu Sepuh Gendari menjerit dan menangis tidak terima atas nasib tragis anak anaknya.
Dia berteriak di balairung raja dengan kerasnya. Tangis seorang Ibu yang membesarkan anaknya.
Gendari : " Wahai Yudistra !!! Aku menuntut balas atas kematian anak anaku!"
" anak anak yangaku lahirkan dan atas saudaraku Sengkuni"
Yudistira perlahan turun dari singgasananya menyambut Bibinya yang sedang berteriak histeris itu.
Yudistira : " Wahai Ibu Gendari, duduklah mari "
" Barata yudha telah selesai, jangan lagi ada darah tertumpah di keluarga kita" ucap Yudhistira lembut.
Gendari : " Wahai, orang yang dianggap paling suci, kenapa engkau tidak ikut mati saja di kurusetra!"
" ucapanmu halus, tapi aku tak sudi," "Tak Sudi aku duduk Disini"
Yudhistira : "Ibu Gendari, Mohon diriku ini Untuk menjelaskan"
Gendari " Penjelasan!, Penjelasan macam apa yang mau kau berikan wahai anak kunti!, pandawa Utuh Sedangkan, Kurawa Musnah!"
"Inikah yang namanya keadilan!"
" Aku Ingin Jika Seluruh korawa mati, seluruh Pandawa juga mati!"
Ucap Gendari sangat marah
Yudhistira : " Mohon Ibu Duduk Dahulu"
Gendari : " Dasar Anak Tak Tahu Diri, Telah Merebut tahta Dari Anakku!"
" Aku Tak Sudi!"
Yudhistira : " Ibu Gendari, Keadilan seperti apa yang Ibu tuntut padaku?"
Gendari : " Pokoknya aku ingin nyawumu dan adik adikmu"
" Akan aku taruh kepala kalian di depan pusara duryudana"
" Bukankah Adikmu, Bima telah melecehkan mayat anakku dengan menyobek nyobeknya, seperti yang dia lakukan kepada patih sengkuni!"
Yudhistira " Aku Tidak punya pembelaan atas apa yang engkau lakukan wahai Ibu Gendari"
Setiap nasib manusi telah dituliskan, atas apa yang telah dilakukan. dan kodrat manusia telah dijalankan "
" Pandawa juga kehilangan orang orang yang dikasihi wahai Ibu Gendari "
" Aku kehilangan Guru, Sahabat, Anak dan banyak orang orang yang aku Kasihi Ibu Gendari "
" Barata Yudha adalah jalan pensucian atas apa yang semua orang yang ikut pernah lakukan wahai Ibu Gendari ",
Gendari : " Tapi Kenapa kalian Masih Hidup ? Apakah kalian Orang suci !"
Yudhistira : " Bukan Ibu, saya masih harus menjalani Karma saya, dan Syang Hyang Wenang masih memberikan tugas yang maha berat untukku di Marcapada ini"
"kalau Boleh memilih, Aku Lebih Baik Ikut Meninggal di barata Yudha, mengikuti para sepuh yang tiada, Resi Bhisma, Resi Drona , resi Seta, Prabu Salya dan kstaria Lain disana"
Gendari : "Takdir ! Takdir apa maksudmu wahai Anak Kunti!"
Yudhistira : "Takdir untuk menanggung semua harapan orang orang yang membela saya di padang Kurusetra Wahai Ibu Gendari"
"Harapan Mereka agar Hastinapura dan seluruh alam marcapada ini menjadi tempat yang lebih baik untuk semua mahluk"
Gendari tertegun. Dia sudah tidak memiliki pembelaan atas apa yang dituntutnya,
Tapi dia masih mencari akal
" Yudhistira, mengapa tiidak kau relakan saja tahta Hastina Pura ke duryudana ?"
Yudhistra : " Wahai Ibu Gendari, Dari dahulu saya sudah iklaskan tahta kepada Duryudana"
Gendari :" Maksudmu ?"
Yudhistira : " Saya Sudah Paham, Jalan Yang akan saya hadapi wahai Ibu Gendari "
" bahlan Sebelum Ibu Kunti Melahirkan saya "
" Kepahitan Hidup yang akan saya jalani ,"
" Wahai Ibu Gendari, Saya tak ingin Harta dan kuasa "
" Ibu Ingat masa Kecil kami ?"
" Saat kami dan anak anak Ibu Gendari di latih oleh guru Drona"
" dan kami selalu diganggu oleh anak anak Ibu"
" Sejatinya kala itu saya sanggup untuk menyuruh Bimasena dan harjuna untuk Mengalahkan Anak anak Ibu Semuanya, Namun Saya Tahan. agar Adik Adik saya dan anak anak Ibu Gendari bisa untuk berproses dewasa"
"Jikalau Emosi Di Luapkan Begitu Saja, Semuanya Akan Binasa Wahai Ibu Gendari "
" Ketika Kami Akan Dibunuh Di balai Sigala Gala dan Dibuang ke Hutan, Bisa Saja Kami Membalas Ibu Gendari, Tapi Semuanya akan Percuma"
"Barata Yudha ini adalah Penghakiman atas Manusia Ibu, Setiap yag gugur disana telah membawa apa yang ia lakukan di masa hidupnya, dan Apakah Ibu Berfikir bahwa kematian kematian disana yang tragis akan disesali oleh diri mereka yang Gugur wahai Ibu ?"
" Semuanya baik dan jahat, semua yang hidup akan kembali kepada Syang Hyang wenang Wahai Ibu Gendari '
Gendari Tidak dapat menyangkal lagi, Ia Pergi dari balairung Raja, Sudah tidak dengan meratapi kematian anak - anaknya. tapi atas takdir yang dia buat. Atas Perbuatanya dan iri hatinya telah menimbulkan bencana di Astina Pura"
Ratu Sepuh Gendari menjerit dan menangis tidak terima atas nasib tragis anak anaknya.
Dia berteriak di balairung raja dengan kerasnya. Tangis seorang Ibu yang membesarkan anaknya.
Gendari : " Wahai Yudistra !!! Aku menuntut balas atas kematian anak anaku!"
" anak anak yangaku lahirkan dan atas saudaraku Sengkuni"
Yudistira perlahan turun dari singgasananya menyambut Bibinya yang sedang berteriak histeris itu.
Yudistira : " Wahai Ibu Gendari, duduklah mari "
" Barata yudha telah selesai, jangan lagi ada darah tertumpah di keluarga kita" ucap Yudhistira lembut.
Gendari : " Wahai, orang yang dianggap paling suci, kenapa engkau tidak ikut mati saja di kurusetra!"
" ucapanmu halus, tapi aku tak sudi," "Tak Sudi aku duduk Disini"
Yudhistira : "Ibu Gendari, Mohon diriku ini Untuk menjelaskan"
Gendari " Penjelasan!, Penjelasan macam apa yang mau kau berikan wahai anak kunti!, pandawa Utuh Sedangkan, Kurawa Musnah!"
"Inikah yang namanya keadilan!"
" Aku Ingin Jika Seluruh korawa mati, seluruh Pandawa juga mati!"
Ucap Gendari sangat marah
Yudhistira : " Mohon Ibu Duduk Dahulu"
Gendari : " Dasar Anak Tak Tahu Diri, Telah Merebut tahta Dari Anakku!"
" Aku Tak Sudi!"
Yudhistira : " Ibu Gendari, Keadilan seperti apa yang Ibu tuntut padaku?"
Gendari : " Pokoknya aku ingin nyawumu dan adik adikmu"
" Akan aku taruh kepala kalian di depan pusara duryudana"
" Bukankah Adikmu, Bima telah melecehkan mayat anakku dengan menyobek nyobeknya, seperti yang dia lakukan kepada patih sengkuni!"
Yudhistira " Aku Tidak punya pembelaan atas apa yang engkau lakukan wahai Ibu Gendari"
Setiap nasib manusi telah dituliskan, atas apa yang telah dilakukan. dan kodrat manusia telah dijalankan "
" Pandawa juga kehilangan orang orang yang dikasihi wahai Ibu Gendari "
" Aku kehilangan Guru, Sahabat, Anak dan banyak orang orang yang aku Kasihi Ibu Gendari "
" Barata Yudha adalah jalan pensucian atas apa yang semua orang yang ikut pernah lakukan wahai Ibu Gendari ",
Gendari : " Tapi Kenapa kalian Masih Hidup ? Apakah kalian Orang suci !"
Yudhistira : " Bukan Ibu, saya masih harus menjalani Karma saya, dan Syang Hyang Wenang masih memberikan tugas yang maha berat untukku di Marcapada ini"
"kalau Boleh memilih, Aku Lebih Baik Ikut Meninggal di barata Yudha, mengikuti para sepuh yang tiada, Resi Bhisma, Resi Drona , resi Seta, Prabu Salya dan kstaria Lain disana"
Gendari : "Takdir ! Takdir apa maksudmu wahai Anak Kunti!"
Yudhistira : "Takdir untuk menanggung semua harapan orang orang yang membela saya di padang Kurusetra Wahai Ibu Gendari"
"Harapan Mereka agar Hastinapura dan seluruh alam marcapada ini menjadi tempat yang lebih baik untuk semua mahluk"
Gendari tertegun. Dia sudah tidak memiliki pembelaan atas apa yang dituntutnya,
Tapi dia masih mencari akal
" Yudhistira, mengapa tiidak kau relakan saja tahta Hastina Pura ke duryudana ?"
Yudhistra : " Wahai Ibu Gendari, Dari dahulu saya sudah iklaskan tahta kepada Duryudana"
Gendari :" Maksudmu ?"
Yudhistira : " Saya Sudah Paham, Jalan Yang akan saya hadapi wahai Ibu Gendari "
" bahlan Sebelum Ibu Kunti Melahirkan saya "
" Kepahitan Hidup yang akan saya jalani ,"
" Wahai Ibu Gendari, Saya tak ingin Harta dan kuasa "
" Ibu Ingat masa Kecil kami ?"
" Saat kami dan anak anak Ibu Gendari di latih oleh guru Drona"
" dan kami selalu diganggu oleh anak anak Ibu"
" Sejatinya kala itu saya sanggup untuk menyuruh Bimasena dan harjuna untuk Mengalahkan Anak anak Ibu Semuanya, Namun Saya Tahan. agar Adik Adik saya dan anak anak Ibu Gendari bisa untuk berproses dewasa"
"Jikalau Emosi Di Luapkan Begitu Saja, Semuanya Akan Binasa Wahai Ibu Gendari "
" Ketika Kami Akan Dibunuh Di balai Sigala Gala dan Dibuang ke Hutan, Bisa Saja Kami Membalas Ibu Gendari, Tapi Semuanya akan Percuma"
"Barata Yudha ini adalah Penghakiman atas Manusia Ibu, Setiap yag gugur disana telah membawa apa yang ia lakukan di masa hidupnya, dan Apakah Ibu Berfikir bahwa kematian kematian disana yang tragis akan disesali oleh diri mereka yang Gugur wahai Ibu ?"
" Semuanya baik dan jahat, semua yang hidup akan kembali kepada Syang Hyang wenang Wahai Ibu Gendari '
Gendari Tidak dapat menyangkal lagi, Ia Pergi dari balairung Raja, Sudah tidak dengan meratapi kematian anak - anaknya. tapi atas takdir yang dia buat. Atas Perbuatanya dan iri hatinya telah menimbulkan bencana di Astina Pura"
Kisah Perjalanan - Jamur barat Liar
Jamur Barat, entah kenapa dinamai denga nama itu.
Adalah makanan yang paling enak, yang pernah aku makan.
Jamur ini sangat jarang ditemui, dan kadang aku temui ketika sangat beruntung.
Dia Hanya Bisa Hidup Sebentar, Mungkin Saja Hanya Setengah Hari
sering kali ada ketika Pagi Setelah Hujan jamur ini baru bisa ditemui,
Sudah Bertahun tahun mungkin aku sudah tidak lagi merasakan nikmatnya.
Dia Berbeda dengan jamur jamur budidaya, Hanya Bermodalkan Garam dan Minyak untuk menggoreng jamur ini bisa jadi santapan yang luar biasa.
Santapan ini tidak bisa dibeli di restoran ataupun di warung makan,
Beruntung masa kecilku pernah menikmatinya
Cerita - Petani Bertanya
Di Sudut Kampung yang jauh dari kota, dimana tempat padi menguning dan air sangat bersih,
duduk di sudut pematang sawah, seorang petani. Lusuh dan berpeluh wajahnya setelah seharian mencangkul tanpa henti. Petak petak sawah separuhnya telah berbekas cangkulan. hasil kerja kerasnya.
Matahari siang itu begitu terik, seperti membakar dan menyengat. Si Petani duduk di galangan sawah untuk beristirahat. Musim Tanam akan tiba, Ia Harus mencangkul Sawahnya terlebih dahulu sebelum ditanami.
Dikeluarkan dari saku bajunya sebatang rokok kretek lengkap dengan koreknya. dibakarlah sebatang rokok itu dan dihisapnya dalam dalam. pikiranya menerawang jauh keatas cakrawala. atas masa masa hidupnya yang membahagiakan,
Jaman Kecil dimana Dia berlari di petak petak sawah dengan teman temanya, mencari belut dengan bermodalkan lampu petromak dan kenangan kenangan lain di masa kecilnya. Kini dirinya telah menua dan badanya tak sekuat dulu.
Ia Merasa badanya telah reot dan rapuh, Sudah terlalu lelah ia untuk hidup. Sangat lelah dengan semuanya. Bahkan Anak dan istrinnya telah pergi lebih dahulu dari dirinya. Sudah menahun ia jadi Imam Masjid, Ia rindu akan Kematian. Bukankah Hidup Itu Indah tapi hanya persinggahan ?.
Hidup Ini Tidak Abadi, Justru itulah yag membuatnya menjadi lebih indah.
Ia Telah Berjuang melewati hidup yang telah menempuh masa 71 tahun, Jaman Telah Berubah. dari yang semula jalan masih berdebu dan berbongkah bongkah batu sekarang telah menjadi jalan beraspal. yang kadang mulus tapi sering kali berlubang lubang. Banyak petani yang memiliki uang sekarang lebih menggunakan traktor daripada kerbau. Padahal di masa kecilnya orang kayalah yang memiliki kerbau.
Mesin mesin telah mengganti banyak Hal, Dia Membuat Segalanya lebih mudah, namun menghilangkan Romantisme. tak ada lagi sambut menyambut ketika panen. Bekerja bersama di ladang sampai sore Lalu Mengaji di Langgar. Tak ada lagi senyum riang anak anak bermain main di lapangan berumput atau di sungai sungai dipinggir pematang sawah. mereka lebih memilih Duduk duduk dirumah sambil bermain handphone murahan atau pergi untuk berkebut kebutan menggunakan motor rongsok hasil rakitan.
Sawah sekarang mulai ditinggalkan, Peranya lebih hanya sekedar tempat untuk padi tumbuh untuk dijual.
Keindahan Kehidupan disapu oleh Hanya keinginan manusia untuk menumpuk dan menumpuk uang. meski uang hanya ditinggalkan untuk mati.
Lelah badanya, beberapa kali terbersit di pikiranya untuk menggantung diri saja, untuk cepat bertemu DengaNya. Tapi itupun tak boleh di dalam ajaran agama yang ia anut. Tuhan Engkau maha Bercanda. Aku ingin bertemu denganmu, tapi tak juga engkau ijinkan.
Padi Padi Tiap Tahun Berganti dan berganti dengan yang baru. Selalu Begitu, mereka tunduk padamu.Angin mereka tidak ingkar pada takdir. Bulir Bulir padi semakin berisi, Ia Merunduk dan menguning. lalu dipotong, mati dan menjadi gabah.
Tuhanku, pikir si Petani. Kau Telah Beri aku Kebahagiaan tiada tara dalam hidupku yang sederhana ini.
dengan orang tua yang mendidikku secara keras di keluarga yang serba kekurangan, Istri yang mengabdi padaku begitu lama sebelum engkau panggil dahulu mendahului aku dan anak anak serta cucu cucu yang memberi aku bahagia di hari tuaku.
Namun Aku Lelah Tuhan, Aku Lelah selelah lelahnya.
Layaknya daun daun tua yang jatuh dari pohonya. Aku Sudah Tak Mau Didunia ini, Aku ingin Bertemu Denganmu.
Aku Rindu
duduk di sudut pematang sawah, seorang petani. Lusuh dan berpeluh wajahnya setelah seharian mencangkul tanpa henti. Petak petak sawah separuhnya telah berbekas cangkulan. hasil kerja kerasnya.
Matahari siang itu begitu terik, seperti membakar dan menyengat. Si Petani duduk di galangan sawah untuk beristirahat. Musim Tanam akan tiba, Ia Harus mencangkul Sawahnya terlebih dahulu sebelum ditanami.
Dikeluarkan dari saku bajunya sebatang rokok kretek lengkap dengan koreknya. dibakarlah sebatang rokok itu dan dihisapnya dalam dalam. pikiranya menerawang jauh keatas cakrawala. atas masa masa hidupnya yang membahagiakan,
Jaman Kecil dimana Dia berlari di petak petak sawah dengan teman temanya, mencari belut dengan bermodalkan lampu petromak dan kenangan kenangan lain di masa kecilnya. Kini dirinya telah menua dan badanya tak sekuat dulu.
Ia Merasa badanya telah reot dan rapuh, Sudah terlalu lelah ia untuk hidup. Sangat lelah dengan semuanya. Bahkan Anak dan istrinnya telah pergi lebih dahulu dari dirinya. Sudah menahun ia jadi Imam Masjid, Ia rindu akan Kematian. Bukankah Hidup Itu Indah tapi hanya persinggahan ?.
Hidup Ini Tidak Abadi, Justru itulah yag membuatnya menjadi lebih indah.
Ia Telah Berjuang melewati hidup yang telah menempuh masa 71 tahun, Jaman Telah Berubah. dari yang semula jalan masih berdebu dan berbongkah bongkah batu sekarang telah menjadi jalan beraspal. yang kadang mulus tapi sering kali berlubang lubang. Banyak petani yang memiliki uang sekarang lebih menggunakan traktor daripada kerbau. Padahal di masa kecilnya orang kayalah yang memiliki kerbau.
Mesin mesin telah mengganti banyak Hal, Dia Membuat Segalanya lebih mudah, namun menghilangkan Romantisme. tak ada lagi sambut menyambut ketika panen. Bekerja bersama di ladang sampai sore Lalu Mengaji di Langgar. Tak ada lagi senyum riang anak anak bermain main di lapangan berumput atau di sungai sungai dipinggir pematang sawah. mereka lebih memilih Duduk duduk dirumah sambil bermain handphone murahan atau pergi untuk berkebut kebutan menggunakan motor rongsok hasil rakitan.
Sawah sekarang mulai ditinggalkan, Peranya lebih hanya sekedar tempat untuk padi tumbuh untuk dijual.
Keindahan Kehidupan disapu oleh Hanya keinginan manusia untuk menumpuk dan menumpuk uang. meski uang hanya ditinggalkan untuk mati.
Lelah badanya, beberapa kali terbersit di pikiranya untuk menggantung diri saja, untuk cepat bertemu DengaNya. Tapi itupun tak boleh di dalam ajaran agama yang ia anut. Tuhan Engkau maha Bercanda. Aku ingin bertemu denganmu, tapi tak juga engkau ijinkan.
Padi Padi Tiap Tahun Berganti dan berganti dengan yang baru. Selalu Begitu, mereka tunduk padamu.Angin mereka tidak ingkar pada takdir. Bulir Bulir padi semakin berisi, Ia Merunduk dan menguning. lalu dipotong, mati dan menjadi gabah.
Tuhanku, pikir si Petani. Kau Telah Beri aku Kebahagiaan tiada tara dalam hidupku yang sederhana ini.
dengan orang tua yang mendidikku secara keras di keluarga yang serba kekurangan, Istri yang mengabdi padaku begitu lama sebelum engkau panggil dahulu mendahului aku dan anak anak serta cucu cucu yang memberi aku bahagia di hari tuaku.
Namun Aku Lelah Tuhan, Aku Lelah selelah lelahnya.
Layaknya daun daun tua yang jatuh dari pohonya. Aku Sudah Tak Mau Didunia ini, Aku ingin Bertemu Denganmu.
Aku Rindu
Filosofi - Aku Ingin Senang
Malam ini Sedang ingin menulis tentang hal dasar manusia,
Kita Ingin bahagia, tapi yang kita kejar adalah kesenangan.
padahal bahagia itu diraih dan dinikmati justru ketika sedih dan berjuang.
Tidak ada jalan pintas kesana,
seperti mendaki gunung, jika jalan pintas yang dipilih tanpa mempelajari medan.
Ujungnya hanya satu,
menderita dan mati.
Kesenangan lebih mudah dilakukan ketika menolak apa yang diperintahkan Allah SWT.
Enakkan ? Minum minuman keras semalaman sambil menikmati PSK2 cantik yang aduhai,
Enakkan, Mengambil uang dengan begitu mudahnya dari orang orang yang merintih karena bekerja keras.
Tapi,
Itu Tidak Sepadan,
Waktu Berputar Begitu Cepat dan Penyesalan selalu datang terlambat,
Iya, Penyesalan datang terlambat.
kalau diawal namanya pendaftaran
Kita Ingin bahagia, tapi yang kita kejar adalah kesenangan.
padahal bahagia itu diraih dan dinikmati justru ketika sedih dan berjuang.
Tidak ada jalan pintas kesana,
seperti mendaki gunung, jika jalan pintas yang dipilih tanpa mempelajari medan.
Ujungnya hanya satu,
menderita dan mati.
Kesenangan lebih mudah dilakukan ketika menolak apa yang diperintahkan Allah SWT.
Enakkan ? Minum minuman keras semalaman sambil menikmati PSK2 cantik yang aduhai,
Enakkan, Mengambil uang dengan begitu mudahnya dari orang orang yang merintih karena bekerja keras.
Tapi,
Itu Tidak Sepadan,
Waktu Berputar Begitu Cepat dan Penyesalan selalu datang terlambat,
Iya, Penyesalan datang terlambat.
kalau diawal namanya pendaftaran
Cerita - Penembak
Aron, Mengendap ngendap,
Dari Kejauhan terdengar sayup sayup suara kendaraan,
kawankah ? Lawankah ?
terdengar suara letusan senapan sekali,
Dan tiba tiba semuanya kelabu,
perlahan dalam sunyi. Pilihanya hanya 2. membunuh atau mati,
dirimba yang tak bertuan, Hanya BerTuhan.
inilah perang, dimedan ini tak terpikirkan lagi membela negara ataupun bangsa. yang penting adalah tetap Hidup,
entah kurang beruntung apa Aron. meski dia yang tersisa diantara belantara ini.
semua anggota peletonya sudah habis,
3 tertembak musuh, 2 mati karena bunuh diri sisanya mati karena penyakit.
Hutan membunuh lebih banyak dari manusia dan entah berapa yang mati dipihak musuh.
Aron cuma berharap lebih banyak.
3 hari sudah semenjak anggotanya telah habis seluruhnya.
mengharap bantuan?
Cuih, pikirnya. di tempat tak bertuan ini, mana mau kaptenya menerjunkan pasukanya untuk menolong.
apalagi mungkin mereka memang dikirim ke hutan ini untuk mati,
bukan karena memang mereka pembangkang. ya tapi yang namanya perang. pasti butuh korban,
Bukankah begitu ?
nama nama yang tidak begitu terkenal di buku sejarah cukup ditulis dengan kata " Jumlah korban di pihak A sekian dan di pihak B sekian"
Bukankah meninggal tanpa nama di dalam perang dan hanya sebagai mortar2 kecil menjadi nasib bagi begitu banyak prajurit?
meski pohon begitu tinggi dan lebat, tapi makanan disini sungguh sulit didapat,
Air tak masalah, dari embun di daun daun dan dari hujan dia masih bisa hidup.
Ada pun cuma untuk sekadar mengisi perut yaitu tanaman pakis dan lumut lumut muda,
Teori untuk bertahan hidup sangat berat diterapkan,
dan seorang tentara juga manusia biasa,
tak khayal Aron jatuh terjelembab tak hanya karena Fisiknya yang terkuras tapi juga mentalnya yang mulai jatuh.
bayangan bayangan hitam bagai iblis mulai mengintai diantara semak semak,
diatas pohon bagaikan monster yang siap menerkam,
Dirinya sudah tak tahan, apakah dia beruntung karena masih hidup ataukah sebuah kutukan yang tak berkesudahan,
Untuk Hidup memang berat,
Tapi Aron tetap berjalan, sambil mengenggam senapanya
meski pohon begitu tinggi dan lebat, tapi makanan disini sungguh sulit didapat,
Air tak masalah, dari embun di daun daun dan dari hujan dia masih bisa hidup.
Ada pun cuma untuk sekadar mengisi perut yaitu tanaman pakis dan lumut lumut muda,
Teori untuk bertahan hidup sangat berat diterapkan,
dan seorang tentara juga manusia biasa,
tak khayal Aron jatuh terjelembab tak hanya karena Fisiknya yang terkuras tapi juga mentalnya yang mulai jatuh.
bayangan bayangan hitam bagai iblis mulai mengintai diantara semak semak,
diatas pohon bagaikan monster yang siap menerkam,
Dirinya sudah tak tahan, apakah dia beruntung karena masih hidup ataukah sebuah kutukan yang tak berkesudahan,
Untuk Hidup memang berat,
Tapi Aron tetap berjalan, sambil mengenggam senapanya
Dari Kejauhan terdengar sayup sayup suara kendaraan,
kawankah ? Lawankah ?
terdengar suara letusan senapan sekali,
Dan tiba tiba semuanya kelabu,
Filosofi - Nasi Goreng
Nasi Goreng, salah satu makanan yang menurutku sangat enak ditangan orang orang yang pintar meraciknya, menjadi makanan biasa ketika yang memasak ala kadarnya, dan jadi mengerikan rasanya ketika seseorang tidak memakai hati dan logika ketika memasaknya.
Anggaplah Nasi Goreng itu Hidup dan kita, manusia. sebagai kokinya. Tuhan yang pesan nasi Gorengnya dan kebahagiaan adalah bayaranya.
Pertanyaanya adalah,
apakah saya sudah serius untuk belajar membuat Nasi Goreng yang enak ?
Jawaban Jujur :
ENGGAK, pengenya dapet bayaran Cepat,
Ngapain belajar, capeeek
Apakah saya sudah mencoba untuk mencari bahan terbaik, atau minimal bahan yang bisa dimakan untuk membuat nasi goreng ?
Jawaban Jujur:
ENGGAK!! Ngapain.
Terus, Gak Malu ? ? ? ?
KIsah Perjalanan - Masa Kecil - Tebu
Hal yang ku ingat ketika masih kanak - kanak, mungkin sebelum TK dan ketika TK adalah ketika Kakek mengambilkan batang batang tebu diseberang jalan rumah.
kehangatan kakek dan kasihnya, juga tentang nenek yang sedikit aku ingat.
Batang Itu dipotong kakek lalu dibersihkan olehnya,
aku mengunyah batang tebu itu, rasanya sangat manis,
Kakek dan Nenek Begitu kurus,
keluarga kakek dan nenek termasuk miskin, dengan banyak anak.
Khas penduduk desa jaman dahulu,
Aku cukup beruntung karena termasuk cucu yang tinggal serumah dengan kakek dan nenek.
beberapa hal hanya bisa kuingat sedikit sedikit tentang masa laluku,
yang pasti dulu ketika kecil aku adalah anak yang amat cengeng dan egois.
dahulu aku sering menangis diatas batu di jalan dekat rumah ketika Ibuku pergi untuk kondangan saat malam hari,
Masa kecil ketika kita merasa bahwa kita adalah pusat dari dunia.
Semua orang dekat kita harus menuruti apa keinginan kita bagaimanapun caranya,
sungguh egois, ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita menangis untuk mendapatkan simpati orang,
Kita mengasihani diri sendiri, bagaimana kita merasa orang lain tidak mau mengerti apa yang kita mau.
jika keinginan tidak dipenuhi, kita membanting, mengunci kamar dan melakukan banyak tindakan kekanak kanakan lainya.
Suatu hari, aku mendapat pelajaran berharga.
ketika pulang dari TK yang jaraknya tidak seberapa dari rumah ( Menurut Pandanganku sekarang),
amat sangat berharga malah,
ketika sampai rumah, banyak orang yang berdatangan,
banyak kursi digelar, Aku belum paham maksudnya apa.
Terus hal yang paling kuingat adalah , ada yang bilang padaku,
bahwa Nenek terjatuh ketika main ayunan.
Aku tidak tahu maksudnya apa,
Dan Nenek Dibawa diatas keranda.
disitu aku hanya bisa menangis,
Nenek kenapa, pikirku,
Nenk kenapa,
Dan aku pinta nenek untuk kembali
Tidak ada jawaban,
disitu orang orang hanya menangis, seperti aku.
kehangatan kakek dan kasihnya, juga tentang nenek yang sedikit aku ingat.
Batang Itu dipotong kakek lalu dibersihkan olehnya,
aku mengunyah batang tebu itu, rasanya sangat manis,
Kakek dan Nenek Begitu kurus,
keluarga kakek dan nenek termasuk miskin, dengan banyak anak.
Khas penduduk desa jaman dahulu,
Aku cukup beruntung karena termasuk cucu yang tinggal serumah dengan kakek dan nenek.
beberapa hal hanya bisa kuingat sedikit sedikit tentang masa laluku,
yang pasti dulu ketika kecil aku adalah anak yang amat cengeng dan egois.
dahulu aku sering menangis diatas batu di jalan dekat rumah ketika Ibuku pergi untuk kondangan saat malam hari,
Masa kecil ketika kita merasa bahwa kita adalah pusat dari dunia.
Semua orang dekat kita harus menuruti apa keinginan kita bagaimanapun caranya,
sungguh egois, ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita menangis untuk mendapatkan simpati orang,
Kita mengasihani diri sendiri, bagaimana kita merasa orang lain tidak mau mengerti apa yang kita mau.
jika keinginan tidak dipenuhi, kita membanting, mengunci kamar dan melakukan banyak tindakan kekanak kanakan lainya.
Suatu hari, aku mendapat pelajaran berharga.
ketika pulang dari TK yang jaraknya tidak seberapa dari rumah ( Menurut Pandanganku sekarang),
amat sangat berharga malah,
ketika sampai rumah, banyak orang yang berdatangan,
banyak kursi digelar, Aku belum paham maksudnya apa.
Terus hal yang paling kuingat adalah , ada yang bilang padaku,
bahwa Nenek terjatuh ketika main ayunan.
Aku tidak tahu maksudnya apa,
Dan Nenek Dibawa diatas keranda.
disitu aku hanya bisa menangis,
Nenek kenapa, pikirku,
Nenk kenapa,
Dan aku pinta nenek untuk kembali
Tidak ada jawaban,
disitu orang orang hanya menangis, seperti aku.
Kisah Perjalanan - Beginning of The Story
Bertahun tahun hidup,
dan menjalani kehidupan,
Hal yang paling penting adalah bahagia dan berbagi kebahagiaan,
Terima kasih, untuk orang orang yang pernah singgah dan mengenal diriku,
Best regard to all of you
dan menjalani kehidupan,
Hal yang paling penting adalah bahagia dan berbagi kebahagiaan,
Terima kasih, untuk orang orang yang pernah singgah dan mengenal diriku,
Best regard to all of you
Cerita - Monyet dan Cicak
Seekor monyet mengendap ngendap memasuki sebuah rumah yang kosong,
kosong melompong tanpa ada penghuninya. Disitu tinggal beberapa ekor cicak yang hidup bahagia.
cicak cicak itu hanya makan nyamuk dan serangga kecil di sekitar rumah kosong itu.
Si monyet tertarik pada para ekor cicak. tentang kheiidupan mereka yang nyaman dan enak diatas atas langit rumah.selalu bermain, bermain dan bermain. sambil sekali kali berburu nyamuk untuk memuaskan lapar.
Monyet : "Boleh Aku tinggal disini dengan kalian ? "tanya si monyet
Cicak : "Boleh saja, asal engkau tidak mengganggu kami, dan tolong diingat. pemilik rumah ini jarang sekali pulang.
" Pemilik rumah ini tinggal diujung negeri seberang, dan kau harus pergi ketika dia datang dan jangan merusak rumah ini"
Monyet: " Baiklah" Jawab si Monyet.
Akhirnya si monyet tinggal disitu dengan senangnya. Tidak kehujanan lagi dan dapat tidur seenaknya. tidak seperti dihutan yang dia harus waspada akan datangnya singa yang siap menerkam.
Ia hanya tinggal ke kebun di belakang rumah yang penuh akan pohon pisang untuk makan.
Namun si monyet amat sangat pemalas,
Rumah jadi berantakan dan sangat kotor.
Badan si monyet jadi sangat sangat gendut.
Bahkan untuk memanjat pohon pisangpun dia tidak sanggup.
akhirnya dia sering meminta tolong kepada para cicak untuk memetikkan pisang.
namun lama kelamaan para Cicak jenuh dan tidak menghiraukan permintaan Si monyet.
Si Monyet sering mengeluh kesakitan untuk mendapat iba dari para Cicak.
para cicak terenyuh, dan menolong Si monyet.
padahal si monyet hanya berbohong,
Tapi dia tetap saja tidak berubah,
tetap saja malas,
karena terlalu sering dimanfaatkan, para cicak muak dan pergi ke loteng.
akhirnya mereka bisa hidup dengan tenang meskipun, tempat bermain mereka sekarang lebih sempit dan makanan lebih susah.
Tapi hidup mereka lebih bahagia,
Si monyet yang bingung karena sudah tidak ada yang menolong, berpikiran pendek.
ketika dia lapar, ia tebang satu persatu pohon pisang, hanya untuk mengambil buahnya.
beberapa minggu berlalu,
pemilik rumah dan kebun pisang pulang untuk menengok rumahnya setelah pelayaran yang panjang di negeri seberang.
Dia marah ketika melihat rumahnya berantakan dan kotor,
tidak hanya berdebu seperti ketika ia pulang kerja seperti sebelumnya,,
Rumahnya kini bak kapal pecah,
dan ketika dia menengok kebun pisang kesanyanganya,
dia terkejut, kebunya sudah hampir habis. hanya ada beberapa pohon pisang yang masih utuh.
sisanya hanya batang batang pisang yang mati tak berbentuk.
Di dekat situ ada seekor monyet yang sangat gendut.
Si monyet ketakutan dan mau lari, tapi apa daya badanya yang gemuk tidak dapat membuatnya berlari.
Si pemilik rumah mengambil kapak di gudang,
dan akhir yang tragis bagi si monyet,
dari loteng para cicak hanya mendengar jeritan pilu si monyet sekali dan kemudian hening........
kosong melompong tanpa ada penghuninya. Disitu tinggal beberapa ekor cicak yang hidup bahagia.
cicak cicak itu hanya makan nyamuk dan serangga kecil di sekitar rumah kosong itu.
Si monyet tertarik pada para ekor cicak. tentang kheiidupan mereka yang nyaman dan enak diatas atas langit rumah.selalu bermain, bermain dan bermain. sambil sekali kali berburu nyamuk untuk memuaskan lapar.
Monyet : "Boleh Aku tinggal disini dengan kalian ? "tanya si monyet
Cicak : "Boleh saja, asal engkau tidak mengganggu kami, dan tolong diingat. pemilik rumah ini jarang sekali pulang.
" Pemilik rumah ini tinggal diujung negeri seberang, dan kau harus pergi ketika dia datang dan jangan merusak rumah ini"
Monyet: " Baiklah" Jawab si Monyet.
Akhirnya si monyet tinggal disitu dengan senangnya. Tidak kehujanan lagi dan dapat tidur seenaknya. tidak seperti dihutan yang dia harus waspada akan datangnya singa yang siap menerkam.
Ia hanya tinggal ke kebun di belakang rumah yang penuh akan pohon pisang untuk makan.
Namun si monyet amat sangat pemalas,
Rumah jadi berantakan dan sangat kotor.
Badan si monyet jadi sangat sangat gendut.
Bahkan untuk memanjat pohon pisangpun dia tidak sanggup.
akhirnya dia sering meminta tolong kepada para cicak untuk memetikkan pisang.
namun lama kelamaan para Cicak jenuh dan tidak menghiraukan permintaan Si monyet.
Si Monyet sering mengeluh kesakitan untuk mendapat iba dari para Cicak.
para cicak terenyuh, dan menolong Si monyet.
padahal si monyet hanya berbohong,
Tapi dia tetap saja tidak berubah,
tetap saja malas,
karena terlalu sering dimanfaatkan, para cicak muak dan pergi ke loteng.
akhirnya mereka bisa hidup dengan tenang meskipun, tempat bermain mereka sekarang lebih sempit dan makanan lebih susah.
Tapi hidup mereka lebih bahagia,
Si monyet yang bingung karena sudah tidak ada yang menolong, berpikiran pendek.
ketika dia lapar, ia tebang satu persatu pohon pisang, hanya untuk mengambil buahnya.
beberapa minggu berlalu,
pemilik rumah dan kebun pisang pulang untuk menengok rumahnya setelah pelayaran yang panjang di negeri seberang.
Dia marah ketika melihat rumahnya berantakan dan kotor,
tidak hanya berdebu seperti ketika ia pulang kerja seperti sebelumnya,,
Rumahnya kini bak kapal pecah,
dan ketika dia menengok kebun pisang kesanyanganya,
dia terkejut, kebunya sudah hampir habis. hanya ada beberapa pohon pisang yang masih utuh.
sisanya hanya batang batang pisang yang mati tak berbentuk.
Di dekat situ ada seekor monyet yang sangat gendut.
Si monyet ketakutan dan mau lari, tapi apa daya badanya yang gemuk tidak dapat membuatnya berlari.
Si pemilik rumah mengambil kapak di gudang,
dan akhir yang tragis bagi si monyet,
dari loteng para cicak hanya mendengar jeritan pilu si monyet sekali dan kemudian hening........
Filosofi - Socrates sang Pecinta Kebijaksanaan
Socrates,
seseorang yang dianggap paling bijak oleh murid muridnya.
seorang tua dengan wajah yang dianggap buruk rupa namun dengan kebijaksanaan luar biasa yang tercermin dalam sikapnya.
Akhir kematianya adalah hal yang tragis, dimana dia seharusnya dianggap sebagai pahlawan di kotanya, Athena. atas sumbangsihnya atas membuka wawasan dan pemahaman atas orang orang yang dia ajak bicara dan orang orang yang menjadi muridnya.
Akankah Tragedi kematian sokrates akan terulang dan terus menerus terjadi di kehdiupan ?
Socrates, orang yang tidak menganggap bahwa dirinya itu tahu karena itulah dia itu bijaksana. orang orang yang memiliki pemahaman dan pengertian ketika dihadapkan kepada orang orang yang mempunyai kekuasaan dan harta apakah ujungnya dia harus jatuh?
Tragedi yang harus dijalani dimana kata kata yang namanya IDEALISME itu dipertahankan. Kita juga seperti layaknya socrates, sebenarnya memiliki sikap dari lahir untuk berbuat baik. untuk menolong dan bersikap baik kepada orang lain.
Tapi,,,,,,,
Seberapa Kuatkah kita mempertahankan idealisme itu ?
apakah Idealisme kita tentang sesuatu, telah leih berharga dari nyawa kita ?
Socrates, dia bisa memilih untuk kabur dari penjara atau membayar denda dengan bantuan uang dari kawan kawanya,
Tapi Apakah itu yang dia pilih ?
Tidak Kawan,
Dia memilih untuk mengikuti hukum Athena,
Dan ketika para juri lebih banyak yang memilih untuk dirinnya mati.
Dia Menerimanya
Socrates dia memberi pelajaran terakhir dengan kematianya.
Bahwa apa yang Ia yakini benar itu adalah hal yang patut untuk dipertahankan.
kematianya ditangisi oleh murid muridnya,
Bukan karena harta, bukan karena ketampanan, bukan karena kuasa
Kawanku, Bukankah begitu indah ?
Filosofi - Jangan Hanya Lihat Rumput tetangga ketika hijau
Hari Kemarin,
Ketika sedang berjalan jalan di dekat perumahan aku terlibat diskusi dengan bapak - bapak komplek.
Tentang beberapa Kehidupan awal mereka sebelum sesukses sekarang. ternyata kehidupan mereka sebelum menjadi sukses seperti sekarang ternyata pahit juga.
Tentang perjuangan untuk hidup dan tetap bisa makan, itu adalah hal yang bisa disyukuri,
salah satu bapak bapak berceletuk tentang kehidupanya di kalimantan. ketika di bekerja di konsulltan dan dengan gaji rendah. sementara istrinya sedang hamil tua. dengan gaji yang terbatas dia harus menghidupi istri dan hanya bisa tinggal di petak kecil.
Akhirnya demi mencukupi kebutuhan keluarga, dia bekerja siang malam. dengan 2 project ketika siang hari, dan 1 ketika malam. pekerjaan itu dia lalui dengan semangat. Untung istrinya pengertian dan mau tau atas kondisi suaminya.
Dan lalu Anaknya Lahir,
dan dari perkataanya, Aku Agak Memahami
" beneran, Anak Pertama itu pembawa Rejeki" katanya
Beberapa saat , setelah anaknya lahir ada orang tambang yang menawarinya pekerjaan yanng lebih baik, setelah melihat kerja kerasnya.
kemudian seperti cerita cerita lain,
kehidupanya berubah drastis dan kemudian dari yang serba kekurangan menjadi lebih baik.
Sampai sekarang, istrinya telah menjadi PNS dan dia telah bekerjadi jakarta
Hal lain yang aku pelajari adalah kesetiaan seorang Istri. yang dia mau untuk dibawa pergi dari kampungnya untuk mengikuti suaminya ke seberang. bahkan dengan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan.
Hal yang sangat diidam diamkan para lelaki, yaitu atas seorang wanita yang setia dikala susah
dan mau untuk mengerti kondisi seorang suami ketika dibawah.
seorang wanita tahu bahwa pria yang dia pilih sekarang ini adalah pria yang akan membuatnya bahagia dan mau berusaha untuknya.
Akhir kata, mungkin kita iri melihat seseorang sudah diatas, memiliki banyak hal.
Mobil, rumah mewah, perhiasan dan lainya.
tapi apakah kita pernah untuk mau menengok masa lalunya ?
untuk tahu kehidupan yang dia jalani selama ini ?
Dan akhirnya aku tahu, disetiap perjuangan itu ada ceritanya,
Dan Setiap Cerita itu adalah kisah yang pantas untuk diceritakan berkali kali
Ketika sedang berjalan jalan di dekat perumahan aku terlibat diskusi dengan bapak - bapak komplek.
Tentang beberapa Kehidupan awal mereka sebelum sesukses sekarang. ternyata kehidupan mereka sebelum menjadi sukses seperti sekarang ternyata pahit juga.
Tentang perjuangan untuk hidup dan tetap bisa makan, itu adalah hal yang bisa disyukuri,
salah satu bapak bapak berceletuk tentang kehidupanya di kalimantan. ketika di bekerja di konsulltan dan dengan gaji rendah. sementara istrinya sedang hamil tua. dengan gaji yang terbatas dia harus menghidupi istri dan hanya bisa tinggal di petak kecil.
Akhirnya demi mencukupi kebutuhan keluarga, dia bekerja siang malam. dengan 2 project ketika siang hari, dan 1 ketika malam. pekerjaan itu dia lalui dengan semangat. Untung istrinya pengertian dan mau tau atas kondisi suaminya.
Dan lalu Anaknya Lahir,
dan dari perkataanya, Aku Agak Memahami
" beneran, Anak Pertama itu pembawa Rejeki" katanya
Beberapa saat , setelah anaknya lahir ada orang tambang yang menawarinya pekerjaan yanng lebih baik, setelah melihat kerja kerasnya.
kemudian seperti cerita cerita lain,
kehidupanya berubah drastis dan kemudian dari yang serba kekurangan menjadi lebih baik.
Sampai sekarang, istrinya telah menjadi PNS dan dia telah bekerjadi jakarta
Hal lain yang aku pelajari adalah kesetiaan seorang Istri. yang dia mau untuk dibawa pergi dari kampungnya untuk mengikuti suaminya ke seberang. bahkan dengan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan.
Hal yang sangat diidam diamkan para lelaki, yaitu atas seorang wanita yang setia dikala susah
dan mau untuk mengerti kondisi seorang suami ketika dibawah.
seorang wanita tahu bahwa pria yang dia pilih sekarang ini adalah pria yang akan membuatnya bahagia dan mau berusaha untuknya.
Akhir kata, mungkin kita iri melihat seseorang sudah diatas, memiliki banyak hal.
Mobil, rumah mewah, perhiasan dan lainya.
tapi apakah kita pernah untuk mau menengok masa lalunya ?
untuk tahu kehidupan yang dia jalani selama ini ?
Dan akhirnya aku tahu, disetiap perjuangan itu ada ceritanya,
Dan Setiap Cerita itu adalah kisah yang pantas untuk diceritakan berkali kali
Langganan:
Komentar (Atom)






