Label

Filosofi – Dasar Bersilsafat

Manusia Tidak akan Puas, Begitu menurut pandangan umum. Hanya kematian yang dapat mennghentikanya.  Pertanyaan mengapa Manusia Itu ada adalah pertanyaan yang ditanyakan dari dahulu. Dari kalangan Peneliti mengatakan kalau Eksistensi manusia Ada karena Ia Ingin Meneruskan Keberlangsungan Spesiesnya  untuk bisa bertahan, dari kalangan Agama. Ekestensi Manusia Berarti Beribadah kepada yan maha Esa.


Atas Pandangan Itu Manusia Terikat pada Fungsinya untuk Hidup. Tapi garis besar itu terlalu umum.
Lalu Bagaimana jika dari kesimpulan tersebut, jika individu dari sisi manusianya dia tidak ingin dan tidak mau untuk meneruskan spesiesnya apakah dia gagal secara hidpnya ?
Apakah Jika Manusia Tidak Beribadah apakah ia Dianggap gagal dalam Menjalani perintah Yang Maha Esa.

Ataukah Salah Untuk hanya hidup sekadar  Hidup sebelum akhirnya mati ?
Jika Salah Lalu Manakah Yang Benar ?
Ataukah Manusia Harus Bisa untuk memaknai Hidupnya?
Bagaimanakah caranya ?
Semakin Mempertanyakan dan Semakin dalam pertanyaan tersebut akan membuat pikiran Bertanya dan mempertanyakan. Namun dalam pertanyaan tersebut manusia tidak akan Puas meskipun berapapun jawaban didapat dari Orang Lain,

Karena Itu  Berfisafat tidak hanya bisa dengan proses berfikir dan bertanya. Tapi juga dijalani. 

Puisi - Far From The Town

I Was Far Far Away From My Town,
I Need Stories,
Need before  I break,

I Need Humanity,
For Not Desperate,

1 July Long Long Ago,
I Feel to Live,

I Pray in the Wedding of Me
and Cross all the Bottom,

The Bottom Line of broken dream,
All Humanity Dream,

And Now I Am Down,
Down Down So Deep,

In the unknown name

Cerita - Keatas Puncak

Tembakan demi tembakan terdengar, Tak Terasa Sudah beberapa Jam peperangan telah berlangsung.
Satu Persatu jatuh, dan Naga Naga Tinggi Membumbung masih saja banyak. Mungkin Pertarungan besar ini akan segera berakhir. dengan kekalahan umat manusia tentunya. Sepuluh Naga Api Mungkin Telah kami bunuh. tapi ratusan sisanya masih saja Berkelebat,


Belati, senapan , Bom , rudal dan nyawa sudah tak terhitung jumlahnya terkalahkan. mayat mayat bergelimpangan bagikan ongokan daun daun jatuh. dan kusadari ternyata manusia itu rapuh. beberapa dari kami menangis berharap ini semua hanya mimpi dan hanya senandung mimpi buruk. tapi apakah ini bagian terburuknya?

Bukan, bukan yang terburuk. yang terburuk akan datang setelah ini. batinku. dan ternyata tebakanku tidka meleset. Boom, meledak dengan jutaan partikel partikel. Inikah yang dinamakan nuklir ?
Puluhan ribu kami disini yang berjuang ternyata hanya umpan para naga.  untuk diledakkan bersama mereka,

Mungkin ini langkah terakhir pemerintah dunia, yang frustasi atas kekacauan yang melanda dunia ini.
dan aku tak bisa menyalahkan mereka.
_______________________________

3 Bulan yang lalu,
Selokan selokan disini terlihat sangat penuh, ada seorang wanita hamil berjalan tergopoh gopoh,
dengan darah menetes dari selangkanganya. Dia berteriak kesakitan dan berjalan menju jalan  raya untuk meminta pertolongan.

"Tolong, Tolong Aku "
Rintihnya,

"Selamatkan Anakku "
"Tolong tolonglah" Mohonya kepada siapa saja di jalan.


Tetapi setiap orang seakan tidak peduli, mereka jalan cepat untuk mengurusi urusanya masing masing. tanda kesakitan dibadan wanita itu padahal terlihat sangat jelas. dia tak berharap dirinya selamat, karena itu sepertinya dia rasa tidak layak atas dosa dosanya.


Ia Hanya ingin anak  di kandunganya terselamatkan.
dan meneruskan kehidupan di dunia nyata. Perempuan itu lelah karena tidak ada yang peduli padanya.
Ia Lelah selelah lelahnya.

Ia Tergeletak di jalan,
rentan dan tak berdaya,

Ia Kecewa, kecewa pada kehidupan. atas perlakuan orang orang, tidak hanya kali ini.
tapi sebelum sebelumnya. Ia mau rasanya mati saja, tapi dia tidak mau janinya mati dengan nista.

di akhir,penghujung dia akhirnya berdoa.
Doa Dengan semua rasa yang dimilikinya. Apapun yang terjadi dia ingin anaknya terlahir kedunia.

Entah apa pun itu yang mesti ia korbankan.

"Tuhan" "Ambil Tuhan"

"Nyawa Tak Berharga ini " Pintanya dalam hati
"tapi jangan nyawa Anakku"
" Aku ingin dia Ada"
" Entah bagaimanapun rupanya"
" Tolong Aku Tuhan"
" Aku Percaya padaMu "


Angin DIngin dan salju lama kelamaan berhembus.
dan nyawa wanita itu tergeletak tak berdaya.

_____________________________________

"Boooooooooooooooooooooooooom"  Suara Keras seperti suara bom meledak.
serasa ini adalah pertanda kiamat. orang orang ketakutan.
di kota itu semua orang berteriak teriak.

lalu mayat perempuan itu tiba tiba bercahaya.
Tubuhnya meledak.
dari dalam perutnya muncul sebuah bola hitam. hitam yang pekat.
lalu benda itu menyentuh tanah,
Tiba Tiba tanah Merekah dan seleruh kota jatuh berdebum ke dalam jurang yang teramat dalam.

Kota itu seluruhnya jatuh kedalam tanpa tersisa.
kejadinya hanya sekian menit,
kengerian tak sempat untuk diteriakkan dalam jangka yang lama.


dan lubang  yang sebesar diameter kota itu tenang selama sebulan,
entah apa yang terjadi di dalamnya.
karena begitu dalamnya.

Beberapa holikopter yang turun kedalamnya tak pernah kembali,


_________________________________

Dan hari itu Datang,
Ratusan naga keluar dari lubang itu,
amat sangat ganas. mereka menyemburkan api dari mulutnya,
membakar kota yang ada. tapi anehnya mereka hanya menyerang manusia. tak pernah sekalipun mereka membakar hutan. hanya desa dan kota kota tempat tinggal manusia,
berhari hari kejadian ini terjadi dan jutaan manusia telah mati. entah terbakar ataupun tercabik cabik oleh para naga itu.

Berapa banyak kota yang jatuh ketangan naga naga itu. Lubang tempat keluar para naga itupun kami serbu untuk kami hancurkan. tapi tidak ada hasilnya. Nuklir dan misil yang ditembakkan kesana seakan setika mati ketika memasuki lubang itu karena tidak pernah ada suara ledakan darinya. keberadaan manusia terancam setelah berpuluh puluh ribu tahun menjadi mahluk dominan diatas bumi,


mungkin beberapa naga yang muncul itu dapat kami bunuh, tapi itu hanya keberuntungan karena mereka sangat kuat.

__________________________________________

Sebulan Sebelumnya
Pusat pemerintahan dunia.



"Kita harus terjunkan semua tentara umat manusia untuk hadapi pertempuran ini,
Mereka tidak ada habisnya,"ucap salah seorang kepala pemerintahan dunia.


" Ya Mereka hama bagi kemanusiaan" Teriak yang Lain.
" Berapa Jumlah Mereka Sekarang ?  "tanya  Sang kepala pemerintahan.

394.
karena dalam pertarungan selama  sebulan ini, kita hanya bisa membunuh 24.
Itupun setelah beberapa kapal perang rusak dan pesawat pesawat pengebom telah ratusan yang dikerahkan.
mereka membuat kerusakan di banyak kota kota besar.

dan jumlah kematian terus saja bertambah,

Amunisi dan bahan bakar tidak bisa didistribusikan secara efektif untuk melawan mereka.


Bersambung.........











Puisi - Sajak Belati

Teriris Sudah hampir tak tersisa,
adakah Aku ?

Atau  Kamu?

Tapi tak mungkin Dia


Kelok mentari masih timbul,
ombak masih saja mendebur
Meski Tetap akan kalah,
Mesti  Nian Berjuang sampai waktuya


Puisi - Bidadari Malang

Jalan Jalan Bertingkat,
Sudah Jam kami ini berangkat
Angan angan telah terangkat
Sudah Akhirnya berpisah jua,

Bidadari malang menangis,
bertetes darah
bebibir Biru

Ia Terduduk Lesu,
bertekuk Badan

Tengok nian dari kejauhan
Sayu teriris

Elok Elok Sungguh elok
dan disini hanya bisa berpedih

Cerita - Tentang Seseorang

"Jreng jreng,"
Suara Gitar Terdengar dari luar, suara pengamen sepertinya. menyanyikan lagu kotor yang menyejukan pikiran.  beberapa tetes darahku keluar dari pergelangan. sedikit tergores di sekitar kulit.
ternyata hari masih panjang dan masih banyak dokumen yang harus aku tanda tangani.

Ternyata hari ini belum saatnya aku pergi, dan sekarang malah menjadi beban pikiran. Sial pikirku.
"jreng jreng " suara gitar itu terdengar lagi. cempreng memang tapi lumayan enak juga. Eh, hari ini aku belum mengecek pos. mungkin ada pos dari dia.

Seorang wanita yang aku pikirkan tiap hari, tanpa henti. ya tanpa henti kecuali sedang memikirkan tagihan bulanan dan cicilan. sudah lah itu tidak penting.

" Jreng jreng" Si kampret Pengamen itu mengenjreng gitarnya lagi.
Duh, kenapa pikiranku tambah kemana mana.. Aku Harap ini segera berakhir, berakhir disini. dan aku harap akhirnya seperti yang aku harapkan tapi sepertinya tidak mungkin..

Aku hanya Diam dan diam, tapi nyawa mengabarkanku. bahwa ia tetap masih ingin disini.
 aku balut lukaku walau dengan kepayahan.
duh, hanya ada tisu, tak apalah.

lalu perlahan aku cari dengan sebelah tangan, mungkin ada perban untuk mengehentikan kepayahan.
Nyawaku seakan bicara, yailah ndro. masak gara gara seseorang doang lu habis. kasian gua nih, masih pengen disini.


"Ok" Bilangku,


Sepertinya semakin darahku menipis aku jadi agak gila.
Tapi tak apa yang penting di dalam kegilaanku ini membuat sisi lain diriku "Waras"



Duh,
"Periih Anjrit!" Badanku mulai berontak.


turun dan turun lagi mataku, secara perlahan. seperti suara sirene dari kejauhan.

lewatkah ? atau akan menolongku ?
sepertinya aku sudah tidak tau lagi.
tak terpikirkan malah,



kembali menghadap tembok dan aku sudah tidak terburu buru.
Akankah sudah saatnya pergi ?

Duh Aku mau meminta maaf dan tidak akan mengulanginya,
tapi berhakkah aku ? untuk mengulang semuanya ?





bahkan si Kasur kesayanganku seolah menolaku kali ini untuk dapt limpahan curhhatku,

Kawan kawanku, tentang dia aku ingin bercerita,
jangan kalian benci dia,




15, 16


Duh sakit,
maaf

maaf




Aku hanya ingin melewati ini,

sendiri



Cerita - Dandelion



Dandelion kecil itu tumbuh di padang rumput yang sangat luas, Ia tumbuh Dengan Hati yang lapang. di dekatnya ada pohon cemara yang berdiri sendirian diantara padang rumput yang luas ini
Dandelion kecil itu bernyanyi, baik Panas maupun Hujan.

Beraneka Ragam Rumput di dekat dandelion ikut bernyanyi ketika si dandelion bernyanyi. Kebanyakan yang dinyanyikan lagu Cinta. ya Lagi Cinta.
Entah Mendayu dayu atau merayu. Jiwa Jiwa mati ikut bersenandung dengan si dandelion kecil.
Mungkin hanya kayu lapuk yang ikut bernyanyi denganya.

Air menetes netes di dahan cemara meyegarkan si dandelion. Bukankah hidup ini Bermakna Dandelion ?
Ketika kamu dapat berbagi kisah kisah dan nyanyian.
Du Du Du.


Mentari Mengitari, seolah tersenyum pada sang dandelion.  Dia Seperti Memohon mohon agar dandelion tidak pernah menjadi kelabu.


Batu ! Ada Batu! Teriak Cemara,
Menggelinding hampir menindih Dandelion yang entah datang darimana.


Akh!!
Dandelion Menjerit, Dia Terkaget. rasanya dekat dengan kematian itu sungguh menyakitkan.
Lalu Tiba tiba Angin Berhembus, di dekat si Dandelion. Seperti apa Saja dapat diterbangkanya.

Waaah, Akar dandelion sudah tidak kuat untuk tertahan di tanah. dia terbang.

Semuanya Rindu, Rindu Akan Kehadiran si dandelion

dia Telah lama Pergi dari padang rumput.


dan lama kelamaan padang rumput telah menjadi tempat yang kering dan buas.
Mereka Rindu momen momen ketika ada si dandelion kecil.
Setiap kebahagiaan di padang terbawa pergi ketika dandelion pergi.
dan Waktu tidak Akan Menjadi sama lagi.


Padang menjadi tempat singa berburu dan kijang untuk bertahan hidup dari terkamanya.



Cerita - Di Depan Pintu

Rika,
"Apa yang kau lakukan ?" teriak ibunya,

"Aku Sedang berdiri di depan pintu bu "
Jawab Rika dengan tatapan kosong,


"Apa maksudmu Berdiri Di Depan Pintu ?"
Tanyanya atas kelakuan si kecil rika yang aneh. Dari Anak Bu Sutikno yang berjumlah enam yang kesemuanya adalah wanita. memang Rika lah yang menurut orang orang paling aneh. dia sering berdiri sendirian menatap kejauhan dan seolah tidak ada orang disekitarnya.

pernah suatu waktu dia tidak pulang dan seharian dicari oleh warga, ternyata dia sedang tertidur diatas pohon mangga. Pernah ia termanggu di tengah kuburan yang menurut orang angker. sebagian orang tua di perumahan itu menganggap dirinya agak kurang waras.

"Rika!" Teriak Ibunya lalu kepada rika.
dia menyeret anaknya itu untuk masuk ke kamarnya.

Tanpa ada suara dan tanpa melawan rika menurut,

Keesokan harinya rika dibawa ibunya ke dukun yang katanya pintar mengobati. dia terkenal dimana mana. saat matahari jatuh ke arah tenggara, Ibunya telah bersiap siap membawa Rika ke dukun itu.. Namun Keanehan terjadi, ketika mobil mereka telah sampai ke Rumah si dukun.

Telah ada bendera kuning berkibar dari rumah si dukun. entah kenapa tiba tiba tadi malam dia  meninggal di kamarnya. padahal sebelumnya baik baik saja.


hari berikutnya Rika dibawa ke Psikiater,  Ibu Dilla namanya. Seorang Psikiater terkenal,

" Bu, Anak Saya kenapa ya ?" tanya Ibu Sutikno ke si psikiater.
" Dia Seperti orang linglung"
Bingung si Ibu.



" Disuruhnya keluar Si Ibu, dan ditanyakan beberapa hal ke Rika atas perbuatan aneh yang dilakukanya.

Tapi Ibu Dilla juga bingung, menghadapi keanehan Rika.
Pertanyaan demi pertanyaan dia tanyakan dengan sangat jelas ke rika,
dengan berbagai macam pertanyaan.


Tapi jawaban yang keluar dari mulut Rika, kadang seperti orang tua yang menasehati atau kadang seperti anak kecil.

Mungkinkah Pikiran anak ini labil.

" Rika" Panggil Ibu Dila , Sebelum Dia mengakhiri percakapan dengan Rika.
" Tolong Jujur, saya Tahu Kamu Tidak sakit Jiwa atau Depresi "
" Tapi Kenapa Tindakanmu seperti orang yang linglung seperti itu"

Tanya Ibu Dilla,

" Tidak Bu, Saya Memang tidak"
Jawa Rika Pelan,

"Terus kenapa kamu seperti itu" Tanya Ibu Dilla,

" Harus ?"

Tanya  Rika


" Iya, jika kamu tidak mau orang orang melihat kamu seperti orang yang sekarang" Jawab Ibu Dilla.



"Ibu  serius ingin Tahu ?" tanya Rika


" Kenapa Memang rika ? Saya disini untuk membantu kamu.


Rika Berbalik menutup pintu dan korden.
kalau Begitu tolong Ibu matikan lampu barang sejenak.

Ibu Dilla Menurutinya.

Ruangan agak remang. lalu Rika Menunjuk Pintu,


dan Seketika Ibu Dilla Paham Maksud Rika