Label

Puisi - Berkarat

Berkarat dan lemah,
tertembus sepi diatas mimpi
Terlihat sedih

Sakit dan ingin sembunyi
Berkata dia
ini tak ada

Terbuang percuma,
Akhir Akhir janji suci
Tak Ada

Tak Ada

Tak Ada

Apa mau dikata
Jutaan Mawar telah menjadi merah
Hancur hingga jadi debu

Berkarat dan Hilang

27 dan menghitung

Aku tahu aku tahu!






Melewati ini,
Dan Kembali

Puisi - Tidur

Aku ingin tertidur tanpa bangun lagi,
Diselimuti jingganya mentari,
kedalam tempat yang tak kan kembali,


Aku ingin terlelap,
terpejam tanpa riak riak derita dunia

Cukuplah Engkau Tuhan,

Tuhan, aku menyerah

Aku Kalah



Puisi - Daun Di Ujung Jalan

Aku memang jalang,
bajingan ternoda emas berlian

Aku koyak nyawa sampai habis,
Hingga Darah tak tersisa lagi,

Bait bait itu aku bakar,
seperti aku membakar daun di ujung jalan

Ia berteriak meminta tolong,
Dan disini aku hanya tertawa

Melihatnya menangis,
Tersedu memekik,

Jam menunjukkan angka sebelas,
dan tahukah dirimu aku disini tertawa menderita

Puisi - Belati Berkarat

Remuk  Nian terhempas,
tertusuk perih mengalun lembut
Rapuh terbalut luka
terhujam rapuh si belati berkarat

noda noda tanpa tawa
menebus kedalam hati yang menjerit
Jerit tanpa suara

tanpa bertanya ia disini,
Tak Sabar untuk menanti mati

Meja Terserak - Puisi

Diatas meja ini aku tuliskan,
beberapa butir pengharapan,
Dahan dahan berserak basah di meja ini
hanya dengan harap ia menanti


Terseok seok Aku menanti Angin yang dingin,
Entah sam[ai kapan bisa bertahan

Oh Tuhan Semesata ini,
Mohon Hamba dikasihi,
Tak kuat menahan hati menahan diri



Oh Dosa,tersenyum Sini Padaku,
Luluh lantak saat bertemu
Anak belati beranjak pilu


Mata ini semakin sayu,
Biru kini warnamu,
Dalam diam aku bercerita
Dalam Meja terserak yang penuh makna