Berkarat dan lemah,
tertembus sepi diatas mimpi
Terlihat sedih
Sakit dan ingin sembunyi
Berkata dia
ini tak ada
Terbuang percuma,
Akhir Akhir janji suci
Tak Ada
Tak Ada
Tak Ada
Apa mau dikata
Jutaan Mawar telah menjadi merah
Hancur hingga jadi debu
Berkarat dan Hilang
27 dan menghitung
Aku tahu aku tahu!
Melewati ini,
Dan Kembali
Deny Blog tentang beberapa pikiran yang ingin saya utarakan kalau ada yang ingin disampaikan bisa ke alamat email saya deny.widiyan@gmail.com
Puisi - Tidur
Aku ingin tertidur tanpa bangun lagi,
Diselimuti jingganya mentari,
kedalam tempat yang tak kan kembali,
Aku ingin terlelap,
terpejam tanpa riak riak derita dunia
Cukuplah Engkau Tuhan,
Tuhan, aku menyerah
Aku Kalah
Diselimuti jingganya mentari,
kedalam tempat yang tak kan kembali,
Aku ingin terlelap,
terpejam tanpa riak riak derita dunia
Cukuplah Engkau Tuhan,
Tuhan, aku menyerah
Aku Kalah
Puisi - Daun Di Ujung Jalan
Aku memang jalang,
bajingan ternoda emas berlian
Aku koyak nyawa sampai habis,
Hingga Darah tak tersisa lagi,
Bait bait itu aku bakar,
seperti aku membakar daun di ujung jalan
Ia berteriak meminta tolong,
Dan disini aku hanya tertawa
Melihatnya menangis,
Tersedu memekik,
Jam menunjukkan angka sebelas,
dan tahukah dirimu aku disini tertawa menderita
bajingan ternoda emas berlian
Aku koyak nyawa sampai habis,
Hingga Darah tak tersisa lagi,
Bait bait itu aku bakar,
seperti aku membakar daun di ujung jalan
Ia berteriak meminta tolong,
Dan disini aku hanya tertawa
Melihatnya menangis,
Tersedu memekik,
Jam menunjukkan angka sebelas,
dan tahukah dirimu aku disini tertawa menderita
Puisi - Belati Berkarat
Remuk Nian terhempas,
tertusuk perih mengalun lembut
Rapuh terbalut luka
terhujam rapuh si belati berkarat
noda noda tanpa tawa
menebus kedalam hati yang menjerit
Jerit tanpa suara
tanpa bertanya ia disini,
Tak Sabar untuk menanti mati
tertusuk perih mengalun lembut
Rapuh terbalut luka
terhujam rapuh si belati berkarat
noda noda tanpa tawa
menebus kedalam hati yang menjerit
Jerit tanpa suara
tanpa bertanya ia disini,
Tak Sabar untuk menanti mati
Meja Terserak - Puisi
Diatas meja ini aku tuliskan,
beberapa butir pengharapan,
Dahan dahan berserak basah di meja ini
hanya dengan harap ia menanti
Terseok seok Aku menanti Angin yang dingin,
Entah sam[ai kapan bisa bertahan
Oh Tuhan Semesata ini,
Mohon Hamba dikasihi,
Tak kuat menahan hati menahan diri
Oh Dosa,tersenyum Sini Padaku,
Luluh lantak saat bertemu
Anak belati beranjak pilu
Mata ini semakin sayu,
Biru kini warnamu,
Dalam diam aku bercerita
Dalam Meja terserak yang penuh makna
beberapa butir pengharapan,
Dahan dahan berserak basah di meja ini
hanya dengan harap ia menanti
Terseok seok Aku menanti Angin yang dingin,
Entah sam[ai kapan bisa bertahan
Oh Tuhan Semesata ini,
Mohon Hamba dikasihi,
Tak kuat menahan hati menahan diri
Oh Dosa,tersenyum Sini Padaku,
Luluh lantak saat bertemu
Anak belati beranjak pilu
Mata ini semakin sayu,
Biru kini warnamu,
Dalam diam aku bercerita
Dalam Meja terserak yang penuh makna
Langganan:
Komentar (Atom)