Di Sudut Kampung yang jauh dari kota, dimana tempat padi menguning dan air sangat bersih,
duduk di sudut pematang sawah, seorang petani. Lusuh dan berpeluh wajahnya setelah seharian mencangkul tanpa henti. Petak petak sawah separuhnya telah berbekas cangkulan. hasil kerja kerasnya.
Matahari siang itu begitu terik, seperti membakar dan menyengat. Si Petani duduk di galangan sawah untuk beristirahat. Musim Tanam akan tiba, Ia Harus mencangkul Sawahnya terlebih dahulu sebelum ditanami.
Dikeluarkan dari saku bajunya sebatang rokok kretek lengkap dengan koreknya. dibakarlah sebatang rokok itu dan dihisapnya dalam dalam. pikiranya menerawang jauh keatas cakrawala. atas masa masa hidupnya yang membahagiakan,
Jaman Kecil dimana Dia berlari di petak petak sawah dengan teman temanya, mencari belut dengan bermodalkan lampu petromak dan kenangan kenangan lain di masa kecilnya. Kini dirinya telah menua dan badanya tak sekuat dulu.
Ia Merasa badanya telah reot dan rapuh, Sudah terlalu lelah ia untuk hidup. Sangat lelah dengan semuanya. Bahkan Anak dan istrinnya telah pergi lebih dahulu dari dirinya. Sudah menahun ia jadi Imam Masjid, Ia rindu akan Kematian. Bukankah Hidup Itu Indah tapi hanya persinggahan ?.
Hidup Ini Tidak Abadi, Justru itulah yag membuatnya menjadi lebih indah.
Ia Telah Berjuang melewati hidup yang telah menempuh masa 71 tahun, Jaman Telah Berubah. dari yang semula jalan masih berdebu dan berbongkah bongkah batu sekarang telah menjadi jalan beraspal. yang kadang mulus tapi sering kali berlubang lubang. Banyak petani yang memiliki uang sekarang lebih menggunakan traktor daripada kerbau. Padahal di masa kecilnya orang kayalah yang memiliki kerbau.
Mesin mesin telah mengganti banyak Hal, Dia Membuat Segalanya lebih mudah, namun menghilangkan Romantisme. tak ada lagi sambut menyambut ketika panen. Bekerja bersama di ladang sampai sore Lalu Mengaji di Langgar. Tak ada lagi senyum riang anak anak bermain main di lapangan berumput atau di sungai sungai dipinggir pematang sawah. mereka lebih memilih Duduk duduk dirumah sambil bermain handphone murahan atau pergi untuk berkebut kebutan menggunakan motor rongsok hasil rakitan.
Sawah sekarang mulai ditinggalkan, Peranya lebih hanya sekedar tempat untuk padi tumbuh untuk dijual.
Keindahan Kehidupan disapu oleh Hanya keinginan manusia untuk menumpuk dan menumpuk uang. meski uang hanya ditinggalkan untuk mati.
Lelah badanya, beberapa kali terbersit di pikiranya untuk menggantung diri saja, untuk cepat bertemu DengaNya. Tapi itupun tak boleh di dalam ajaran agama yang ia anut. Tuhan Engkau maha Bercanda. Aku ingin bertemu denganmu, tapi tak juga engkau ijinkan.
Padi Padi Tiap Tahun Berganti dan berganti dengan yang baru. Selalu Begitu, mereka tunduk padamu.Angin mereka tidak ingkar pada takdir. Bulir Bulir padi semakin berisi, Ia Merunduk dan menguning. lalu dipotong, mati dan menjadi gabah.
Tuhanku, pikir si Petani. Kau Telah Beri aku Kebahagiaan tiada tara dalam hidupku yang sederhana ini.
dengan orang tua yang mendidikku secara keras di keluarga yang serba kekurangan, Istri yang mengabdi padaku begitu lama sebelum engkau panggil dahulu mendahului aku dan anak anak serta cucu cucu yang memberi aku bahagia di hari tuaku.
Namun Aku Lelah Tuhan, Aku Lelah selelah lelahnya.
Layaknya daun daun tua yang jatuh dari pohonya. Aku Sudah Tak Mau Didunia ini, Aku ingin Bertemu Denganmu.
Aku Rindu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar