Label

Cerita - Penghakiman Yudistira



Barata Yudha Telah Selesai, dengan Terbunuhnya Jutaan manusia. Tangis dimana - dimana, entah berapa yang harus kehilangan keluarga. Padang Kurusetra yang hijau telah berubah semerah darah. Bangkai manusia dimana dimana di tanah yang disebut sebagai tanah suci.

Sebuah perang yang telah menjadi legenda

Putra Pertama pandawa, Yudistira diangkat menjadi raja Agung.
Sebagai Raja Astina yang baru, menggantikan Prabu Duryudana yang gugur di tangan Bima.


Ratu Sepuh Gendari menjerit dan menangis tidak terima atas nasib tragis anak anaknya.
Dia berteriak di balairung raja dengan kerasnya. Tangis seorang Ibu yang membesarkan anaknya.

Gendari : " Wahai Yudistra !!! Aku menuntut balas atas kematian anak anaku!"
                 " anak anak yangaku lahirkan dan atas saudaraku Sengkuni"

Yudistira perlahan turun  dari singgasananya menyambut Bibinya yang sedang berteriak histeris itu.

Yudistira : " Wahai Ibu Gendari,  duduklah mari "
                "  Barata yudha telah selesai, jangan lagi ada darah tertumpah di keluarga kita" ucap Yudhistira lembut.


Gendari : " Wahai, orang yang dianggap paling suci, kenapa engkau tidak ikut mati saja di kurusetra!"
                " ucapanmu halus, tapi aku tak sudi," "Tak Sudi aku duduk Disini"

Yudhistira : "Ibu Gendari, Mohon diriku ini Untuk menjelaskan"

Gendari " Penjelasan!, Penjelasan macam apa yang mau kau berikan wahai anak kunti!, pandawa  Utuh Sedangkan, Kurawa Musnah!"
           "Inikah yang namanya keadilan!"
" Aku Ingin Jika Seluruh  korawa mati,  seluruh Pandawa juga mati!"


Ucap Gendari sangat marah


Yudhistira : " Mohon Ibu Duduk Dahulu"

Gendari : " Dasar Anak Tak Tahu Diri, Telah Merebut tahta Dari Anakku!"
              " Aku Tak Sudi!"


Yudhistira : " Ibu Gendari, Keadilan seperti apa yang Ibu tuntut padaku?"

Gendari : " Pokoknya aku ingin nyawumu dan adik adikmu"
                 " Akan aku taruh kepala kalian di depan pusara duryudana"
                 " Bukankah Adikmu, Bima telah melecehkan mayat anakku dengan menyobek nyobeknya, seperti yang dia lakukan kepada patih sengkuni!"




Yudhistira " Aku Tidak punya pembelaan atas apa yang engkau lakukan wahai Ibu Gendari"
                  Setiap nasib manusi telah dituliskan, atas apa yang telah dilakukan. dan kodrat manusia telah dijalankan "
            " Pandawa juga kehilangan orang orang yang dikasihi wahai Ibu Gendari "
             " Aku kehilangan Guru, Sahabat, Anak dan banyak orang orang yang aku Kasihi Ibu Gendari "
" Barata Yudha adalah jalan pensucian atas apa yang semua orang yang ikut pernah lakukan wahai Ibu Gendari ",


Gendari : " Tapi Kenapa kalian Masih Hidup ? Apakah kalian Orang suci !"

Yudhistira : " Bukan Ibu, saya masih harus menjalani Karma saya, dan Syang Hyang Wenang masih memberikan tugas yang maha berat untukku di Marcapada ini"

"kalau Boleh memilih, Aku Lebih Baik Ikut Meninggal di barata Yudha, mengikuti para sepuh yang tiada, Resi Bhisma, Resi Drona , resi Seta,  Prabu Salya dan kstaria Lain disana"



Gendari : "Takdir ! Takdir apa maksudmu wahai Anak Kunti!"




Yudhistira : "Takdir untuk menanggung semua harapan orang orang yang membela saya di padang Kurusetra Wahai Ibu Gendari"
"Harapan Mereka agar Hastinapura  dan seluruh alam marcapada ini menjadi tempat yang lebih baik untuk semua mahluk"




Gendari tertegun. Dia sudah tidak memiliki pembelaan atas apa yang dituntutnya,
Tapi dia masih mencari akal
" Yudhistira, mengapa tiidak kau relakan saja tahta Hastina Pura ke duryudana ?"

Yudhistra : " Wahai Ibu Gendari, Dari dahulu saya sudah iklaskan tahta kepada Duryudana"


Gendari :" Maksudmu ?"

Yudhistira : " Saya Sudah Paham, Jalan Yang akan saya hadapi wahai Ibu Gendari "
                    " bahlan Sebelum Ibu Kunti Melahirkan saya "
                     " Kepahitan Hidup yang akan saya jalani ,"
                  " Wahai Ibu Gendari, Saya tak ingin Harta dan kuasa "


" Ibu Ingat masa Kecil kami ?"
" Saat  kami dan anak anak Ibu Gendari di latih oleh guru Drona"
" dan kami selalu diganggu oleh anak anak Ibu"
" Sejatinya kala itu saya sanggup untuk menyuruh Bimasena dan harjuna untuk Mengalahkan Anak anak Ibu Semuanya, Namun Saya Tahan. agar Adik Adik saya dan anak anak Ibu Gendari bisa untuk berproses dewasa"

"Jikalau Emosi Di Luapkan Begitu Saja, Semuanya Akan Binasa Wahai Ibu Gendari "




" Ketika Kami  Akan Dibunuh Di balai Sigala Gala dan Dibuang ke Hutan, Bisa Saja Kami Membalas Ibu Gendari, Tapi Semuanya akan Percuma"



"Barata Yudha ini adalah Penghakiman atas Manusia Ibu, Setiap yag gugur disana telah membawa apa yang ia lakukan di masa hidupnya, dan Apakah Ibu Berfikir bahwa kematian kematian disana yang tragis akan disesali oleh diri mereka yang Gugur wahai Ibu ?"

" Semuanya baik dan jahat, semua yang hidup akan kembali kepada Syang Hyang wenang Wahai Ibu Gendari '


Gendari Tidak dapat menyangkal lagi, Ia Pergi dari balairung Raja, Sudah tidak dengan meratapi kematian anak - anaknya. tapi atas takdir yang dia buat. Atas Perbuatanya dan iri hatinya telah menimbulkan bencana di Astina Pura"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar